Foto: Vectorportal

Fitnah

Hampir di setiap kitab hadits memuat bab tentang Fitnah. Imam Bukhori, At-Turmudzi dan Ibnu Majah membuat judul dalam kitab haditsnya Kitabul Fitan, Abu Dawud dan Al-Hakim menyebutnya dengan judul Kitabul Fitan wal Malaahim( bab fitnah dan huru hara), sedangkan imam Muslim menyebutnya Kitabul Fitan wa ’Asyraatus Saa’ah (bab fitnah dan tanda-tanda hari kiamat).

Diantara hadits-hadits yang disebutkan dalam shohih Bukhori tentang fitnah dapat disebutkan antara:
 Imam Bukhori mengawali hadits Fitnah dengan menyebut surat Al-Anfaal 25, agar orang beriman hati-hati terhadap fitnah dan menjauhinya.
 Fitnah semakin hari semakin berat dan semakin buruk.
 Harta yang paling bersih di akhir zaman bagi muslim adalah domba yang digembalakan di hutan dekat gunung dan iar hujan.
 Diantara fitnah diakhir zaman, diangkatnya ilmu, dominannya kebodohan dan banyaknya pembunuhan.
 Umat Islam harus bersabar pada pemimpin jamaah Islam walaupun benci asal tidak menyuruh kepada kemungkaran dan kekafiran.
 Cara yang baik untuk selamat dari fitnah yaitu komitmen dengan jamaah Islam.
 Di masa fitnah dilarang memegang senjata yang membahayakan umat Islam.

Tokoh sahabat yang paling menguasai masalah fitnah adalah Hudzaifah bin Al-Yaman. Beliau banyak bertanya tentang keburukan daripada kebaikan. Hal ini dilakukan agar orang-orang beriman terhindar dari fitnah dan keburukannya. Bunyi lengkap hadits adalah: “Manusia biasa bertanya pada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena khawatir akan mengenaiku.” Saya berkata: “Wahai Rasulullah SAW apakah kami dahulu di masa Jahiliyah dan penuh kejahatan, kemudian Allah mendatangkan dengan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini adalagi keburukan?”

Rasul SAW menjawab: “Ya.” ”

Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?”

Rasul SAW menjawab: “Ya, tetapi ada polusinya.”

“Apa polusinya?”

Rasul menjawab: “Kaum yang mengambil hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan engkau ingkari.”

Saya berkata: “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?”

Rasul SAW menjawab: “Ya, para penyeru ke neraka jahanam, barangsiapa yang menyambut mereka ke neraka maka mereka melamparkannya ke dalam neraka.”

Saya berkata:”Ya Rasulullah SAW, terangkan ciri mereka pada kami?”

Rasul SAW menjawab: “(Kulit) mereka sama dengan kulit kita, berbicara sesuai bahasa kita.”

Saya berkata: “Apa yang engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai hal itu?”

Rasul SAW bersabda: “Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya.”

Saya berkata:” Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?”

Rasul menjawab: “Tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits lain yang berbicara tentang fitnah yang diriwayatkan Hudzaifah adalah: Saat itu kami bersama Umar bin Khattab beliau berkata:” Siapa diantara kalian yang mendengar Rasulullah saw. menyebutkan tentang fitnah-fitnah?”

Berkata diantara mereka: “Kami mendengarnya.”

Berkata Hudzaifah: “Mungkin yang antum maksud terfitnahnya seorang lelaki oleh keluarga dan tetangganya?”

Mereka menjawab: “Benar.”

Berkata Hudzaifah: “Fitnah itu terhapus dengan sholat, puasa dan sedekah, tetapi siapa yang mendengar Nabi saw. menyebutkan fitnah-fitnah seperti gelombang lautan?”

Berkata Hudzaifah: “Maka mereka terdiam.”

Aku berkata: “Aku tahu.”

Berkata Umar: “Engkau wahai Hudzaifah!”

Berkata Hudzaifah: “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Fitnah-fitnah itu mengenai hati seperti tikar yang menempel secara terus-menerus’.” (HR Bukhori dan Muslim)

Fitnah anak, istri, tetangga dan lain-lain berupa mencintai mereka secara berlebihan, kurang ketaatannya kepada Allah akibat kesibukan dengan mereka, munculnya sikap kikir akibat kecintaan tersebut. Fitnah anak istri dapat juga berupa melalaikan hak-hak anak dan istri seperti mendidik mereka, begitu juga terkait dengan fitnah tetangga.

Dan fitnah ini sebagaimana disebutkan dalam hadits terhapus dengan ibadah sholat, puasa dan sedekah. Fitnah ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, diantaranya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS At-taghabuun 15). Rasulullah saw. bersabda:” Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita.” (HR Bukhari dan Muslim). []

About Admin 1

Check Also

Hadits Niat karena Hijrah Cinta

Kemurnian dan kesucian amalan sangat diperhitungkan serta dijadikan prioritas agar diusahakan adanya. Tak sia-sia bak debu di atas batu licin yang diterpa angin dan diterjang ombak. 

you're currently offline