Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Fitnah yang akan Terjadi Setelah Rasulullah Tiada

0

Terdapat riwayat yang mengatakan, sesungguhnya delegasi yang terakhir datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah delegasi dari kabilah An-Nakha’i yang datang dari Yaman pada pertengahan bulan Muharram tahun 11 H. Mereka terdiri dari dua ratus orang dan singgah di rumah Ramlah binti Al-Harits.

Kemudian mereka datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan mengakui Islam, sebab sebelumnya mereka telah berbai’at kepada Mu’adz bin labal.

Di antara mereka ada yang bernama Zurarah bin `Amr yang maju ke hadapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di tengah jalan aku melihat mimpi yang membuatku takut.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa itu?”

Dia menjawab, “Aku melihat seekor keledai betina yang aku tingggalkan di keluargaku, ia melahirkan seekor kambing jantan yang berwarna hitam kemerah-merahan. Aku juga melihat api yang keluar dari perut bumi, lalu api itu menghalangi aku dari putraku yang bernama `Amr. Api itu mengatakan, `Neraka, neraka. Orang yang melihat dan orang buta’.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah engkau meninggalkan wanita hamil di keluargamu?”

Dia menjawab, “Ya.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wanita itu akan melahirkan seorang anak, dia adalah putramu.”

Related Posts

Tadi Malam Allah Tertawa

Dia bertanya, “Lalu. apakah arti dari warna hitam kemerah-merahan?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mendekatlah kepadaku. Apakah engkau mempunyai penyakit kusta yang engkau tutup-tutupi?”

Dia menjawab, “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya sebelum engkau.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itulah maksudnya. Sedangkan api itu adalah fitnah yang akan terjadi setelah aku tiada.”

Dia bertanya, “Fitnah apakah itu, wahai Rasulullah?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang akan membunuh imam mereka, mereka berselisih dalam perselisihan yang sangat genting dan ruwet seperti jari lemari yang disilangkan (maksudnya, terjadi perang yang berkecamuk dan kekacauan fitnah). Darah seorang mukmin bagi seorang mukmin lainnya adalah lebih manis daripada madu. Orang yang berbuat keburukan menyangka dirinya melakukan kebenaran. Jika engkau lebih dulu meninggal dunia, maka fitnah itu akan dirasakan oleh putramu. Namun jika putramu yang lebih dulu meninggal dunia, maka fitnah itu akan menyertaimu.”

Lalu dia berkata, “Berdo’alah kepada Allah agar fitnah itu tidak menimpaku.”

Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun berdoa untuknya. []

Sumber: Kisah Para Tabiin/Penulis:Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi /Penerbit:Ummul Qura

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline