Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Engkau Tidak Tahu Bagaimana Mulianya Akhlaq Muhammad

0

 

Pada suatu masa, terjadi pertempuran antara pasukan Rasulullah dengan kabilah Tha’i. Saat itu pasukan Rasulullah SAW dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib. Kabilah Tha’i sebelumnya dipimpin oleh Hatim at-Tha’i. Ia adalah pemimpin yang disegani dan dihormati oleh kaumnya. Namun, setelah ia wafat, ia digantikan oleh anaknya bernama Adi bin Hatim.

Adi bin Hatim adalah seorang lelaki yang cerdas, kaya raya, tegas tetapi sayangnya sangat memusuhi Islam. Tak heran jika saat itu ia mengirimkan pasukan terkuatnya untuk melawan pasukan muslim. Namun dia sendiri tak mengikuti pertempuran itu dan tengah berada di luar Tha’i.

Peperangan sempat terjadi antara pasukan Rasulullah dan tentara Tha’i. Namun, setelah beberapa hari berlalu pasukan Islam berhasil mengatasi perlawanan tentara Tha’i dan mendapat cukup banyak harta rampasan dan tawanan perang.

Ketika tawanan perang itu dikumpulkan dan dibawa kehadapan Rasulullah SAW, seorang perempuan yang berada diantara tawanan perang itu tiba-tiba berdiri dan berkata, “Wahai Muhammad, orang tuaku telah tiada dan tak ada lagi orang yang dapat diutus untuk menjadi juru bicara. Kini aku mohon kepadamu, apakah kamu mau melepaskan diriku dan tidak membiarkan kaum kami berduka?”

“Sungguh d imasa hidupnya, ayahku adalah seorang yang dihormati di kabilah kami. Dia adalah seorang lelaki yang selalu membebaskan tawanan, melindungi kesucian dan kehormatan, menjaga tetangga, membunuh penjahat, meringankan beban orang yang tertimpa musibah, menolong orang sedang susah, memberi makan orang yang kelaparan. Itulah ayahku, dan inilah aku, putri dari Hatim Ath-Tha’i”

Rasulullah mendengar perkataannya dengan saksama dan berkata, “Wahai perempuan, sesungguhnya segala sifat ayahmu, itulah sifat-sifat orang beriman. Seandainya ayahmu seorang Muslim tentulah kami telah berkasih sayang dengan dirinya.” Kemudian Rasulullah berkata pada pasukannya, “Lepaskanlah dia, karena sesungguhnya ayahnya adalah seorang yang menyukai kemuliaan akhlak.”

Safanah, putri Hatim Ath-Tha’i dibebaskan sebagai penghormatan kepada ayahnya yang memiliki kemuliaan akhlak. Setelah bebas, Safanah lalu mencari saudaranya Adi bin Hatim. Mendengar pasukannya kalah, Adi bin Hatim geram dan merencanakan untuk menuntut balas. Namun Safanah mencegah hal itu.

“Engkau tidak tau bagaimana mulianya akhlak laki-laki (Nabi Muhammad SAW) itu. Temuilah dia, dan ikutilah dia. Jika dia seorang Nabi, tentulah kita akan mendapat kemuliaannya. Bahkan jika ia seorang Raja pun, dengan mengikutinya kita tidak akan menjadi rendah dalam kebesarannya.”

Maka beberapa waktu kemudian, Safanah dan Adi bin Hatim mendatangi Rasulullah. Setelah melihat sendiri bagaimana mulianya akhlak Nabi dan indahnya nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah, mereka berdua dengan segera menyatakan diri memeluk agama Islam dan menjadi pembela Islam hingga akhir hayat. []

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline