Foto: pinsdaddy.com

Empat Rakaat di Awal Hari

Matahari telah meninggi, terik cahayanya pun mulai menyengat. Terik panasnya seakan membakar kulit. Waktu dhuha telah tiba. Waktu untuk bekerja dan menunaikan kebutuhan. Meskipun beban risalah begitu berat, seperti menjamu duta-duta yang datang berkunjung, memberikan ta’lim kepada para sahabat, serta menunaikan hak keluarga, namun beliau tidak pernah lupa beribadah kepada Allah Ta’ala.

BACA JUGA: Bila Tiba Waktu Shalat

Mu’adz  berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sering mengerjakan shalat Dhuha?’

Aisyah menjawab, ‘Tentu, beliau sering mengerjakan shalat Dhuha empat rakaat bahkan lebih dari itu seluang waktu yang diberikan Allah’.” (HR. Muslim)

Sholat dhuha adalah sholat awwabin, yakni sholatnya orang-orang yang taat. Merutinkan shalat dhuha menjadikan seseorang dicatat sebagai orang-orang yang taat.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kekasihku (Muhammad) mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang aku tidak meninggalkannya: agar aku tidak tidur kecuali setelah melakukan shalat witir, agar aku tidak meninggalkan dua rakaat shalat Dhuha karena ia adalah shalat awwabin serta agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan.” (HR. Ibnu Khuzaimah; shahih).

BACA JUGA: Shalat Adalah Kekuatan untuk Hamba Allah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad) []

Sumber: Sehari di Kediaman Rasulullah/ Penulis: Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim/ Penerbit: Darul Haq/ Juni, 2013

About Dini Koswarini

Check Also

Seperti Mangkuk Terbalik dan Batu Besar Halus

Sebab, hal itu akan membuat orang itu senantiasa cenderung melakukan perbuatan buruk. Juga, ia akan melakukan perbuatan buruk itu secara spontan karena memang telah terbiasa.

you're currently offline