Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Dua Wewangian Nabi

 

Hasan bin Ali bin Abu Thalib

Hasan lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga hijriyah, ia adalah anak pertama Ali dan Fatimah.
“Aku ingin melihat anakku,” pinta Nabi

Mereka lalu menunjukkan si bayi. Nabi memandangnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Beliau tampak berpikir, lalu bertanya, “Akan kauberi nama siapa bayi ini?”

Ali adalah lelaki kesatria dan pemberani. Ia ingin anaknya kelak mencintai orang-orang yang mulia, berjihad melawan orang-orang kafir, memerangi musuh, dan berjuang membela agama Allah. Ia pun menamai anaknya itu Harb, yang berarti peperangan.

Tetapi, nampaknya Nabi tidak suka dengan nama itu. Meski seorang panglima perang, tetapi beliau sangat lembut dan juga penyayang. Dengan kelembutan seorang Nabi, beliau kemudian berkata, “Namanya Hasan.”

Pada hari ketujuh kelahiran Hasan, Nabi mengumandangkan azan di telinganya lalu menggelar akikah. Kemudian menyuruh supaya mencukur rambut dan ditimbang dengan perak, lalu perak itu disedekahkan.

Hasan bin Ali bin Abu Thalib

Husein dilahirkan pada kamis bulan Sya’ban tahun keempat hijriyah. Nabi sangat bahagia dengan kelahiran Husein, sama seperti saat kelahiran Hasan.

Setelah diperhatikan, beliau menatap si bayi dengan tatapan lembut, lalu bertanya nama untuk anak itu. Ali pun menjawab seperti dulu, “Kuberi nama ia Harb.”

Nabi pun menolak seperti dulu, kemudian berkata “Namanya Husein,” kata Nabi. Nabi memang lembut dan menyukai nama yang baik.

Nabi pun menggelar akikah untuk Husein sama seperti yang beliau lakukan untuk Hasan.

Rasulullah sangat mencintai Hasan dan Husein.

“Mereka berdua adalah penghulu pemuda ahli Surga,” kata Nabi.

Beliau juga pernah berdoa, “Ya Allah, aku sangat mencintai mereka. Maka cintailah mereka dan orang-orang yang mencintai mereka.”

Ketika tiba di depan para sahabat, beliau berkata, “Siapa yang mencintai mereka berarti mencintaiku, siapa yang membenci mereka berarti membenciku.”

Suatu hari, Umar melihat Hasan dan Husein sedang menaiki punggung Nabi dan berkata, “Sebaik-baik kuda tunggangan adalah yang ditunggangi kalian.”

Lalu Nabi menjawab, “Sebaik-baik penunggang kuda adalah mereka berdua.”

Jika Hasan dan Husein menunggangi Nabi saat beliau sedang shalat, beliau tidak akan menurunkan mereka sampai mereka sendiri yang turun. Jika kemudian rukuk, beliau merenggangkan agak lebar agar mereka bisa bermain di bawahnya.

Suatu ketika, Abu Ayyub al-Anshari berkunjung ke rumah Nabi, dan melihat Hasan dan Husein sedang bermain bersama beliau.

“Wahai Rasulullah, apakah engkau mencintai mereka?” tanya Abu Ayyub.

“Bagaimana tidak? Mereka adalah dua wewangianku di dunia yang selalu kuhirup aromanya.” Jawab beliau dengan mantap. []

Sumber: Sahabat-Sahabat Cilik Rasulullah, karya Dr. Nizar Abazhah, terbitan Dar al-Fikr, Damakus: 2009., hal. 84, 84, 86, 87, 88, 89, 90.
Redaktur: Dika Nugraha

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More