Foto: 123RF.com

Dua Tahapan Rasulullah dalam Berdakwah (Bagian 2)

Ayat pertama yang turun berkenaan dengan dakwah jahriyyah ini adalah:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara Ayat 214).

Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengundang para kerabat terdekatnya, Bani Hasyim. Dengan kejujuran Rasulullah yang telah diketahui oleh seluruh kerabatnya, akhirnya mereka memenuhi undangan Rasulullah. Mereka yang memenuhi undangan itu berjumlah sekitar 45 orang laki-laki.

Ketika Rasulullah akan berbicara, Abu Lahab lantas memotong, “Mereka itu adalah paman-pamanmu dan juga sepupumu. Bicaralah dan tinggalkanlah agamamu. Ketahuilah! Kaummu tidak akan mampu melawan seluruh bangsa Arab. Aku adalah orang yang paling pantas mencegahmu. Cukuplah bagimu suku-suku dari pihak bapakmu. Bagi mereka, jika engkau tetap bersikeras melakukan apa yang engkau lakukan sekarang, adalah lebih mudah daripada jika seluruh marga Quraisy Bersama bangsa Arab bergerak untuk memusuhimu. Aku tidak pernah melihat ada orang yang membawa kepada suku-suku dari pihak bapaknya sesuatu yang lebih jelek dari apa yang telah engkau bawa ini.”

Mendengar itu, Rasulullah diam dan tak berbicara pada pertemuan itu.

Sekali waktu, Rasulullah mengundang mereka lagi, lalu beliau berbicara, “Alhamdulillah, aku memuji-Nya, meminta pertolongan, beriman serta bertawakkal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan (yang haq) melainkan Allah semata Yang tiada sekutu bagi-Nya.

Beliau meneruskan, “Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang dating kepada kalian, dan kepada seluruh manusia. Demi Allah! Sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (dimintai pertanggungjawaban) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya yang ada hanya Surga yang abadi atau Neraka yang kekal.”

Mendengar itu, Abu Thalib (paman beliau) berkata, “Alangkah senangnya kami membantumu, menerima nasehatmu, dan sangat membenarkan kata-katamu. Mereka yang merupakan suku-suku dari pihak bapakmu telah berkumpul. Sesungguhnya aku hanyalah salah satu dari mereka, namun aku adalah orang yang paling cepat menanggapi apa yang engkau inginkan. Oleh karena itu, teruskan apa yang telah dating dan diperintahkan padamu. Demi Allah, aku akan senantiasa melindungi dan membelamu, hanya saja diriku tidak memiliki cukup keberanian untuk meninggalkan agama Abdul Muthalib.

Abu Lahab kemudian berkata, “Demi Allah, ini adalah benar-benar aib yang besar. Ayo cegahlah ia sebelum orang lain yang turun tangan untuk mencegahnya.”

Abu Thalib menjawab dengan tegas tetap membela Rasulullah, “Demi Allah! Sungguh selama kami masih hidup, kami akan senantiasa membelanya.

Setelah pertemuan itu, Rasulullah merasa yakin dengan janji pamannya, Abu Thalib. Rasulullah memulai kembali dakwah jahriyyah ini dengan berseru lantang di atas bukit Shafa, “Wahai orang-orang kemarilah!”

Mendengar seruan ini maka orang-orang Quraisy berkumpul. Di antara mereka ada yang datang langsung dan ada juga yang mengirimkan utusannya. Kemudian Rasulullah berseru lagi, “Wahai Bani Abdul Muthalib! Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Ka’ab! Bagaimana menurut kalian seandainya aku kabarkan kepada kalian bahwa di balik gunung ini ada serombongan berkuda yang siap untuk menyerang kalian, apakah kalian semua percaya padaku?”

Maka semua berkata, “Ya, kami percaya.”

Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kamu sekalian mengenai azab Allah yang amat pedih.”

Mendengar kata-kata beliau ini, Abu Lahab berdiri sambil berkata, “Celakalah engkau Muhammad! Apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami pada hari ini?”

Ketika itu, turunlah ayat,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS. Al-Lahab Ayat 1).

Riwayat lain menyebutkan, Beliau memberi peringatan tersebut secara umum dan khusus. Beliau mengatakan: “Wahai kaum Quraisy, Selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan mudharat kepada kalian dan tidak pula manfaat, serta aku tidak bisa menolong kalian sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai Bani Ka’ab bin Luay, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberi mudharat dan tidak pula manfaat! Wahai Bani Ka’ab bin Murrah, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Qushay, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan mudharat dan tidak pula manfaat! Wahai bani ‘Abdu Syams, selamatkanlah diri-diri kalian dari api neraka! Wahai bani Abdu Manaf, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan mudharat dan tidak pula manfaat! Wahai bani Hasyim, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Wahai bani ‘Abdul Muthalib, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan mudharat dan tidak pula manfaat, serta aku tidak bisa menolong kalian sedikitpun dari (keputusan) Allah! Mintalah kepadaku dari hartaku sebanyak yang kalian suka, namun aku tidak bisa menolong kalian sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, aku tidak bisa menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai Shafiyyah bintu ‘Abdil Muththalib (bibi Rasulullah), aku tidak bisa menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai Fatimah bintu Muhammad Rasulullah mintalah kepadaku dari hartaku sebanyak apa yang engkau mau, selamatkan dirimu dari api neraka, aku tidak bisa menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah! Karena kalian memiliki hubungan silaturahmi maka akan aku basahi dengan airnya (maksudnya akan aku sambung hubungan silaturahmi tersebut sesuai haknya).

Setelah selesai beliau menyampaikan peringatan tersebut, orang-orangpun bubar dan bertebaran. Tidak disebutkan keadaan bahwa mereka menampakkan suatu penentangan ataupun dukungan atas apa yang telah mereka dengar, kecuali apa yang terjadi pada Abu Lahab. Ia menemui Nabi dengan nada yang kasar. Ia berkata, “Celakalah engkau selama-lamanya! Cuma untuk inikah kamu kumpulkan kami?” Maka turunlah ayat (artinya): “Telah celaka kedua tangan Abu Lahab dan diapun celaka.” (Al-Lahab Ayat 1)

Dakwah Jahriyyah ini merupakan bentuk esensi penyampaian dakwah yang begitu optimal, dimana Rasulullah benar-benar menyampaikan risalah kepada semua orang, tak terkecuali kerabat terdekat beliau sendiri, demikianlah yang sebagaimana tertanam oleh kebanyakan orang Arab akan fanatisme kekerabatan. []

 

Sumber: Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. Ar-Rahiq al-Makhtum, Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad, Dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir. Jakarta: Darul Haq.

About Dika Nugraha

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline