Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Doa yang Terdengar di Multazam (Bagian 2)

0 107

Abu Ja`far Al-Manshur merupakan putra dari pasangan suami-istri Muhammad bin bin `Abdullah bin Al-Abbas dan seorang perempuan suku Berber bernama Sallamah binti `Abdullah bin Manshur Al-Humairiyyah. Kini ia menjadi penguasa ke-2 Dinasti `Abbasiyyah di Irak. Ia juga dipandang sebagai pendiri sebenarnya Dinasti `Abbasiyyah. 

BACA JUGA: Doa yang Terdengar di Multazam (Bagian 1)

“Ya, memang Engkau, Amir Al-Mukminin!” jawab orang itu.

Tetap dengan nada suara lugas dan tegas ia melanjutkan, “Amir Al-Mukminin! Bukankah Allah Swt. telah menjadikan engkau sebagai pemelihara segala urusan dan harta kaum Muslim. Namun, ternyata engkau abai terhadap amanah itu. Engkau lebih mementingkan dirimu dengan menumpuk harta. Engkau jadikan di antara dirimu dan mereka sekat dari kapur, batu bata, pintu besi, dan para penjaga bersenjata. Kemudian, engkau kurung dirimu dalam gedung-gedung itu dan engkau perintahkan para pejabat dan pegawaimu untuk menghimpun harta dan pajak. Juga, engkau angkat para menteri dan pejabat zalim. Manakala engkau lupa, mereka tidak mengingatkan engkau,” seusai berucap demikian, orang itu lantas memberikan nasihat panjang kepada Amirul Mukminin.

“Manakala engkau ingat, mereka juga tidak membantu engkau. Kekuatan mereka terletak pada tindakan menganiaya masyarakat dengan mengambil harta, hewan ternak, dan peralatan mereka. Engkau perintahkan agar siapa pun tidak masuk ke tempatmu, selain orang-orang yang telah engkau sebutkan namanya. Sebaliknya, tidak engkau perintahkan agar kepadamu dilaporkan perihal orang yang teraniaya, orang yang menderita, orang yang kelaparan, orang yang tidak berpakaian, orang lemah, dan orang miskin. Padahal, tidak seorang pun di antara mereka melainkan memiliki hak atas harta itu!”

Sementara sang penguasa, dengan penuh takzim, menyimak kata demi kata dari lelaki tak dikenal itu.

Usai memberikan nasihat, dia pun lantas bertanya kepada Abu Ja’far Al-Manshur, “Amir Al-Mukminin! Benarkah engkau telah menyiksa orang-orang yang mendurhakaimu, di antara rakyatmu, dengan hukuman yang lebih berat ketimbang hukuman bunuh?”

BACA JUGA: Perjalanan Hidup Ummahatul Mukminin Pertama (Bagian 1)

“Tidak!”

“Apakah yang telah engkau lakukan dengan kekuasaan yang telah diserahkan Allah Swt. kepadamu? Apa hakmu dari kekuasaan duniawi itu? Bukankah Allah Swt. tidak menyiksa orang-orang yang mendurhakai Dia dengan hukum bunuh. Namun, Dia menyiksa mereka dengan azab pedih yang abadi. Padahal, Dia melihat segala yang membersit dalam hatimu dan yang disembunyikan oleh anggota tubuhmu. Apakah yang akan engkau katakan manakala Maharaja Yang Mahabenar lagi Maha Menerangkan mencabut kekuasaan duniawi dari tanganmu dan memanggilmu untuk dihisab? Apakah ada sesuatu yang kuasa memperkaya dirimu kepada-Nya dari kekuasaan duniawi yang kini sedang engkau buru itu?” Abu Ja`far Al-Manshur pun tidak kuasa menahan lelehan air matanya mendengar pertanyaan yang demikian.

“Duh, andaikan aku ini tidak diciptakan dan bukan sesuatu.”

Pembangun Kota Bagdad Dar Al-Salam ini lantas bertanya, “Apa dayaku dalam kaitannya dengan kekuasaan yang diserahkan kepadaku sedangkan yang kulihat dari orang-orang di sekitarku hanya pengkhianatan semata?”

“Amir Al-Mukminin! Engkau mesti meminta bantuan kepada orang-orang yang berilmu yang menjadi pengarah umat!”

“Siapakah mereka?”

“Para ulama!”

“Mereka menghindar dariku!”

“Mereka menghindar darimu karena khawatir akan melintasi jalan yang engkau siapkan hanya bagi para pejabat dan pegawaimu. Karena itu, bukalah pintu gerbang istanamu dan mudahkanlah untuk melintasi tembok istana. Bagi siapa pun. Berikan pertolongan kepada orang yang teraniaya dari tindakan para penganiaya. Cegahlah segala bentuk kezaliman. Ambillah sesuatu dari yang halal dan baik serta bagikanlah dengan adil dan benar. Bila semua itu engkau lakukan, saya jamin orang-orang yang menghindar darimu akan datang kembali kepadamu. Dengan demikian, mereka pun akan menolongmu dalam menopang tugas dan mengelola rakyat!”

BACA JUGA: Runtuhnya Benteng Penolong Rakyat

“Ya Allah, Tuhanku,” ucap Abu Ja`far Al-Manshur seraya menengadahkan tangannya ke atas, “Anugerahkanlah ke padaku pertolongan-Mu untuk melaksanakan segala sesuatu yang dikemukakan oleh orang ini.”

Tiba-tiba seorang muazin datang dan mengemukakan bahwa telah saatnya shalat Shubuh dilaksanakan. Abu Ja’far Al-Manshur pun keluar menuju Masjid Al-Haram dan melaksanakan shalat bersama jemaah yang hadir di masjid itu.[]

Sumber: Para Pemimpin yang Menjaga Amanah: Islamic Golden Stories/Karya: Ahmad Rofi’ Usmani/Penerbit: Bentang Pustaka

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline