Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Doa yang Terdengar di Multazam (Bagian 1)

104

Abu Ja`far Al-Manshur merupakan putra dari pasangan suami-istri Muhammad bin bin `Abdullah bin Al-Abbas dan seorang perempuan suku Berber bernama Sallamah binti `Abdullah bin Manshur Al-Humairiyyah. Kini ia menjadi penguasa ke-2 Dinasti `Abbasiyyah di Irak. Ia juga dipandang sebagai pendiri sebenarnya Dinasti `Abbasiyyah. 

Kala itu, malam telah sangat larut dan dini hari menjelang merekah. Selepas mengadakan pertemuan dengan beberapa pejabat di Dar Al-Nadwah (lokasinya kini menjadi Gerbang Raja `Abdul `Aziz), Mekah, Abu Ja`far Al-Manshur, dengan diam-diam menyelinap masuk ke dalam Masjid Al-Haram dan kemudian bertawaf di seputar Ka`bah.

BACA JUGA: Dialihkannya Kiblat Ke Masjid Al-Haram

Memang, demikianlah kebiasaannya manakala tengah berada di Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

Kemudian, ketika sedang melintas di dekat Multazam, dia mendengar seseorang sedang berdoa sepenuh dan setulus hati, “Ya Allah, Tuhanku! Sungguh, aku mengadu kepada-Mu, perihal maraknya kezaliman dan kerusakan di Bumi ini. Juga, maraknya kerakusan dan kehancuran yang menjadi tirai antara kebenaran dan para pencintanya.”

Mendengar doa tersebut, rasa ingin tahu perihal doa itu membuat penguasa bertubuh jangkung itu sangat penasaran. Oleh karena itu, seusai bertawaf, ia lantas memerintahkan seorang pengawal untuk mencari orang yang berdoa di Multazam itu.

“Apa maksud dari doamu yang kudengar darimu di Multazam tadi?” tanya Al-Manshur ketika orang itu dibawa menghadap kepadanya.

“Bukankah kau adukan kepada Allah Swt, perihal maraknya kezaliman dan kerusakan di Bumi ini serta kerakusan dan kehancuran yang menjadi tirai antara kebenaran dan pencintanya? Mendengar doamu itu, telingaku terasa sangat pedih hingga kini. Pikiranku pun menjadi kacau tidak keruan!” jelas Amirul Mukminin

“Amir Al-Mukminin,” sahut orang itu, dengan nada suara tenang.

“Apabila engkau berkenan memberikan jaminan keamanan dan keselamatan atas diri saya, akan saya paparkan kepadamu persoalan itu. Sejelas-jelasnya. Sebaliknya, apabila engkau tidak berkenan, persoalan itu tidak akan saya kemukakan kepada siapa pun kecuali kepada diri saya saja. Saya terlalu sibuk dengan urusan itu.”

“Baik, kujamin keselamatan dan keamanan dirimu. Namun, sebatas hanya atas dirimu semata!”

BACA JUGA: Kalau Kau Tidak Takut Akan Api Neraka, Lalu Kenapa? (Bagian 1)

“Amir Al-Mukminin! Sejatinya, yang telah dirasuki kerakusan sehingga menjadi tirai antara dirinya dan kebenaran dan perbaikan atas kezaliman dan kerusakan di Bumi ini, adalah engkau sendiri!”

“Aku? Aku? Aku? Celaka kau! Bagaimanakah kerakusan menyergap diriku?” Tentu saja dia sangat terkejut. []

Sumber: Para Pemimpin yang Menjaga Amanah: Islamic Golden Stories/Karya: Ahmad Rofi’ Usmani/Penerbit: Bentang Pustaka

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More