Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Disanalah Jasad Abu Ayyub di Makamkan

0

Pada jaman Muawiyah menjabat Amirul Mukminin, Abu Ayyub al-Anshari mempunyai hutang yang cukup besar. Ia menemui Muawiyah mengadukan persoalan hutangnya dengan harapan akan dibantu dalam pelunasannya, tetapi harapannya itu sia-sia saja. Ketika ia menceritakan “Ramalan” Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam seusai Perang Hunain tersebut, Muawiyah justru bertanya, “Apakah yang dinasehatkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada kalian?”

“Bersabar!!” Kata Abu Ayyub.

“Kalau begitu, bersabarlah kalian!” Kata Muawiyah.

“Demi Allah!” Kata Abu Ayyub, “Setelah hari ini, aku tidak akan meminta suatu apapun kepadamu selama-lamanya.”

Bagaimanapun beban hutang harus diselesaikan, karena itu Abu Ayyub pergi ke Bashrah dengan harapan akan memperoleh jalan keluar dari persoalannya. Ia disambut dengan hangat oleh Abdullah bin Abbas, yang menjabat Amir dan memintanya tinggal di rumahnya. Bahkan ia meminta semua anggota keluarganya meninggalkan rumah tersebut untuk ditempati Abu Ayyub.

Ibnu Abbas berkata, “Aku akan berbuat baik kepadamu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Aku dan keluargaku pindah dari rumah ini agar engkau bisa menempatinya, sebagaimana engkau dan keluargamu telah mengosongkan rumah untuk bisa ditempati oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Abu Ayyub mendapat perlakuan dan pelayanan yang istimewa dari Ibnu Abbas, haknya dari baitul mal juga dibayarkan oleh Ibnu Abbas, bahkan diberikan lima kali lipat dari seharusnya sehingga Abu Ayyub bisa menyelesaikan persoalan hutangnya, bahkan masih banyak kelebihannya, yang bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhannya.

Abu Ayyub tak pernah absen dari berjuang bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk meninggikan dan memenangkan panji-panji Islam, begitu juga ketika beliau telah wafat.

Dalam perang penaklukan Konstantinopel di jaman Muawiyah, ketika itu ia telah berusia sekitar 80 tahun, ia jatuh sakit sebelum pertempuran dimulai. Ketika kondisinya makin kritis menjelang sakaratul maut, ia berkata, “Sampaikan salamku kepada seluruh tentara islam, katakan kepada mereka bahwa Abu Ayyub berwasiat, masuklah kalian sejauh mungkin ke bumi orang-orang kafir, dan kuburkanlah jasadku di sekitar tembok kota Konstantinopel.”

Pasukan muslim ternyata mampu mendesak pasukan musuh hingga terus mundur dan bertahan di kota Konstantinopel, dan di sanalah jasad Abu Ayyub dimakamkan.

Dalam masa-masa akhir hidupnya tersebut, ia juga sempat mengajarkan tafsiran yang benar dari Surah al Baqarah 195. Saat dua pasukan telah berhadapan, ada seorang lelaki muhajirin yang maju sendirian menyerbu tentara Romawi sehingga membuka jalan penyerangan.

Beberapa tentara muslim berteriak melihat kenekatannya, “Hentikan-hentikan, Laa Ilaha illallah, ia menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan!”

Mendengar teriakan tersebut, yang seakan-akan menyitir surah al Baqarah 195, Abu Ayyub berkata, “Bukan seperti itu (maksud dari ayat tersebut), ayat tersebut diturunkan untuk kita orang-orang Anshar. Ketika Allah telah menolong Nabi-Nya dan memenangkan Islam dan menjadikannya kuat, kami kaum Anshar berkata, ‘Marilah sekarang kita mengurus dan memperbaiki kebun-kebun kita yang telah telantar (karena ditinggal berjihad)’. Maka Allah menurunkan ayat tersebut sebagai celaan akan niat kita tersebut dan meninggalkan jihad.” []

Baca juga: Inilah 46 Sekretaris Rasulullah SAW

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline