Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Dimerdekakannya dengan Akad Mukatabah

0

Sayyidah Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyah, Ummahatul Mukminin yang terakhir. Sayyidah Aisyah berkata tentangnya, “Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang paling bertakwa di antara kami dan paling baik dalam menyambungkan tali silaturahim.”

Rasulullah menikahinya, dan dia adalah saudara Sayyidah Fadhl Lubabah binti Al-Harits Al-Hilaliyah, istri dari Al-Abbas bin Abdul Muthallib, paman Nabi. Rasulullah menikahinya di wilayah dekat Tan’im dekat Mekah Al-Mukarramah, pada bulan syawal tahun ke 7 Hijriyah.

Yang terkenal tentang dirinya di antara istri-istri Nabi adalah bahwasanya dia tidak pernah menjadi bagian dari pertikaian maupun pertengkaran yang terjadi di rumah Nabi. Dia mempunyai empat puluh enam hadits yang diriwayatkan oleh para imam hadits yang enam.

Telah diriwayatkan darinya Abdullah bin Abbas,Yazid bin Al-Ashani dan sekelompok orang dari kalangan tabi’in, dan yang paling terkenal antara mereka adalah maulanya, Sulaiman bin Yasar.  Sulaiman adalah maula (bekas budak) dari Maimunah binti Al-Harits, istri Nabi. Kemudian ia memerdekakannya dengan akad mukatabah, yakni dengan membayarkan sejumlah uang kepadanya yang akan dia usahakan dengan mengumpulkan uang tersebut, dan dia akan merdeka jika dia telah melunasinya.

Sulaiman menceritakan tentang kisahnya dengan Aisyah Ummul Mukminin. Dia mengatakan, “Aku pernah meminta izin untuk masuk ke rumah Aisyah, lalu dia mengenali suaraku dan dia bertanya, “Apakah itu Sulaiman?”

Aku menjawab, “Benar, Sulaiman.”

Aisyah bertanya lagi, “Apakah engkau telah memenuhi apa yang engkau ajukan kepada hakim?”

Aku menjawab, “Sudah, hanya tersisa sedikit saja.”

Aisyah berkata, “Masuklah, sesungguhnya engkau masih seorang hamba selama masih belum melunasinya.”

Demikianlah Sulaiman menjadi anak asuh di rumah Nabi di Madinah. Dia adalah orang yang tepercaya bagi keluarga Rasulullah, tepercaya dalam bidang keilmuan dan periwayatannya, tinggi kedudukannya dalam bidang ilmu dan fikih, mulia kedudukannya dalam bidang logika dan qiyas serta tingkat keilmuannya, juga seorang ahli fikih yang luas ilmunya.

Sehingga orang-orang yang hidup se-zaman dengannya memandangnya dengan pandangan khusus di antara para ahli fikih Madinah yang tujuh. Dia banyak meriwayatkan hadits dan menghafalnya, dia tidak merasa cukup hanya dengan periwayatan dari Ummahatul Mukminin saja, akan tetapi dia juga meriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair, putra-putra Al-Abbas bin Abdullah dan Ubaidullah, Abdullah bin Abbas, dan Abu Waqid Al-Laitsi. Di tambah lagi dari Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan Abdullah bin Umar.

Dia diasuh, dibesarkan, dan belajar pada zaman yang dianggap sebagai zaman terbaik dari zaman para tabi’in secara umum. Dia tumbuh, belajar, dan hidup pada abad pertama Hijriyah, di mana pada masa itu merupakan masa-masa berjayanya kekhalifahan. []

Sumber: Kisah Para Tabi’in/ Penulis: Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi/ Penerbit: Umul Qura

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More