Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Dialog Cinta Bersama Sahabat Allah

0 1

Rabi’ah Al-‘Adawiyah hidup di lingkungan yang saling cinta mencintai karena Allah. Mereka sama-sama menerima cinderamata langit, menghirup keharuman malaikat, dan bertemu dengan rombongan yang seiman.

Mereka bertolak dari fenomena sesuatu menuju ke atas, sehingga mereka sampai pada inti atau hakikatnya. Di sana mereka dapat menyaksikan rahasia-rahasia, yang hanya diberikan pada orang-orang tertentu. Mereka saling mencintai karena Allah, merekalah yang dicintai-Nya.

Dia tempatkan mereka di mimbar yang bahan bakunya cahaya, menganugerahi rahrnat, kemampuan, dan keridhaan-Nya. Teman dekat Rabi’ah Al-‘Adawiyah adalah Hayyunah. Keduanya mencintai Allah dengan sepenuh hati. Mereka saling kunjung mengunjungi, saling isi mengisi ilmu pengetahuan dan mentaati Allah dengan rnengerjakan amal saleh sebanyak mungkin.

Ketika Hayyunah datang berkunjung ke rumah Rabi’ah Al-Adawiyah, ia berkata kepada Hayyunah, “Wahai Hayyunah, apakah engkau mengetahui kenapa Allah menciptakan makhluk?”

Hayyunah berkata, “Allah menciptakan mereka untuk mengabdi kepada-Nya. Sebab Dia-lah yang berfirman, ‘Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.’” (QS. A1-Dzariyat: 56)

Rabi’ah berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan mereka agar mereka mengenal-Nya, dan begitu mereka mengenal-Nya maka mereka akan menyembah-Nya. Ketika mereka menyembah-Nya maka dibukalah rahasia-rahasia kerajaan-Nya untuk mereka. Kemudian ketika mereka menyctksikan rahasia-rahasia kerajaan-Nya, maka bertambahlah kenikmatan mereka, karena telah mengetahui cahaya-cahayanya alam jabarut.”

Hayyunah berkata, “Bagaimana cara mereka mengenal-Nya wahai Rabi’ah?”

“Mereka akan mengenal Allah dengan (pertolongan) Allah. Lantas bagaimana menurutmu wahai Hayyunah?”

Related Posts

Tatkala Hasan mengajak Rabi’ah Shalat di Atas Air

“Sesungguhnya yang kuketahui, wahai Rabi’ah Al-‘Adawiyah, adalah siapa yang mencintai Allah niscaya akan berkawan dengan-Nya.”

“Itu adalah ahwal dan perasaan, wahai Hayyunah, lau bagaimana engkau mencintai-Nya?”

“Seandainya aku mengetahui bahwa di dalam hatiku ada cinta kepada selain Dia, atau ada ketakutanku kepada selain Dia, niscaya tanganku akan kucederai dengan pisau.”

“Itulah yang benar dalam cinta. Tapi dengan apa engkau bermunajat kepada-Nya wahai Hayyunah?”

“Aku akan berdoa kepada-Nya dengan ucapan permohonan, ‘Wahai Tuhan, karuniakan kepadaku, ketenangan hatiku, dengan ikatan keyakinan kepada-Mu, dan jadikanlah seluruh isi hatiku, terikat keyakinan penuh dengan Ridha-Mu, dan janganiah Engkaujadikan keberuntunganku sebagai pencegah dari berdekat dengan-Mu, wahai pusat segala harapan orang-orang yang berangan-angan.’

Dan kadang-kadang aku berdoa dengan ungkapan permohanan yang lain, ‘Wahai ‘Kesatuan’ku, Engkau selalu mencegahku pada malam, untuk membaca, kemudian Engkau memutusku dari-Mu di siang hari yang terang benderang? Wahai Tuhanku! Aku sangat mendambakan bahwa siang adalah malam, agar aku bisa menikmati kedekatan dengan-Mu.’”

Rabi’ah ketika itu merasa kelelahan, dan terlelap. Maka ia digoyang oleh Hayyunah seraya berkata, “Bangunlah wahai Rabi’ah Al-‘Adawiyah, mempelai orang-orang yang mendapatkan petunjuk telah datang. Wahai yang telah menghiasai pengantin-pengantin malam dengan cahaya-cahaya tahajud.” []

Sumber: 165 Nafas-nafas Cinta, Kidung Cinta Rabiah Al-‘Adawiyah/Penulis:Rudyiyanto/Penerbit: Srigunting,2010

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline