Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Dialah Sang Peratap

0 4

“Ratapilah dirimu wahai orang melarat, Kelak kau pun mati meski selama Nuh kau hidup.” Itulah sepenggal syair tentang terbatasnya umur, sepanjang umur Nabi Nuh pun.

Siapa yang tak kenal Nabi Nuh? Hal yang banyak dikisahkan tentang beliau adalah perihal usianya yang panjang, 950 tahun, dan dakwahnya yang tak kenal lelah. Siapa pula yang tak tahu tentang banjir bandang yang merata di berbagai daratan di muka bumi sehingga memusnahkan lebih dari separuh populasi makhluk hidup pada saat itu. Beliau mendapat mandat suci sebagai rasul pada saat beliau berusia 250 tahun, dan hidup selama 200 tahun setelah surutnya air bah.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa, konon, nama asli beliau bukanlah ‘Nuh’, melainkan Abdul Ghoffar, ada pula yang menyebutkan bahwa nama beliau Yasykur. Sedangkan ‘Nuh’ hanyalah julukan bagi beliau, artinya orang yang meratap.

Nah, di sini kita akan mencoba memetik satu atau dua tangkai hikmah dari sebab mengapa beliau dijuluki dengan nama ‘Nuh’. Sehingga kita bisa melahap buah kebijaksanaan ini, kemudian menanam biji-bijinya, agar kebun hati kita rimbun dengan kerindangan hikmah yang menyejukkan.

Suatu ketika, dalam satu perjalanan, Abdul Ghoffar berpapasan dengan seekor anjing lusuh bermata empat dan begitu mengerikan. Melihat hal aneh dan jarang beliau temui ini, beliau bergumam, “Wah, anjing ini begitu jelek.”

Sepertinya si anjing mendengar gumaman beliau, dia terus memandangi manusia di hadapannya itu dengan tatapan sinis. Sejurus kemudian, saat beliau hendak berlalu, tanpa diduga, si anjing menyeru, “Hai Abdul Ghoffar! Siapa yang kau cela tadi? Ukirannya ataukah Pengukirnya?!”

Sang Nabi terkejut mendengar hardikan itu. Tanpa menunggu jawaban, si anjing melanjutkan, “Jika yang kau cela adalah ukirannya, yakni aku, maka ketahuilah bahwa aku tak pernah meminta untuk diciptakan menjadi anjing seperti ini! Dan jika yang kau cela adalah Sang Pengukir, maka ketahuilah bahwa Dia melakukan apa yang Ia kehendaki dan tidak satu cela pun Ia punyai, ingat itu!”

Belum sempat Abdul Ghoffar berkata-kata, si anjing berlalu begitu saja, meninggalkan beliau yang masih terbelalak dan merenungkan setiap butir kata-katanya. Beliau terus menerus memikirkan kata-kata si anjing, semakin lama semakin beliau pahami maknanya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya, beliau menyesal dan meratapi kekeliruan ucapan dan anggapannya. Sejak itu, karena banyaknya meratapi kesalahan (Naaha – Yanuuhu), beliau dijuluki orang-orang sekitarnya dengan sebutan ‘Nuh’, sang peratap. []

Sumber: Siraj ath-Thalibin/ Penulis: Syaikh Ihsan Dahlan Al-Jampesi

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline