Picture: Pixabay

Dia yang Saudaraku, Bukan Kamu

Seperti kila ketahui, pada Perang Badar, orang Islam memetik kemenangan. Di antara tawanan yang berada di tangan kaum Muslim adalah saudara Mush‘ab bin Umair benama Abu Aziz bin ‘Umair.

Mush‘ab sebenarnya melihat dan lewat di depan saudaranya yang menjadi pemegang bendera kaum musyrikin itu. Namun, ketika saudaranya menegur dan meminta pertolongannya, Mush‘ab bin ‘Umair berbicara kepada orang Anshar yang menawan saudaranya itu, “Pegang tawanan ini kuat-kuat. lbunya orang kaya. Mudah-mudahan ibunya bisa menebusnya dengan harga yang mahal.”

“Saudaraku, apakah ini nasihatmu kepadaku?” tanya saudaranya kebingungan. Mush‘ab berkata kepadanya sambil menunjuk orang Anshar yang menawannya, “Dia (orang Anshar) adalah saudaraku bukan kamu, dia lebih dekat denganku daripada kamu. Dia adalah saudaraku selainmu.”

Jadi, Mush‘ab, lebih mendahulukan saudara seiman daripada saudara kandungnya, karena menurutnya saudara seiman lebih dekat dengannya. []

Sumber: The Road to Muhammad/ Penulis: Jalaludin Rakhmat/ Penerbit: Mizan/ 2009

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline