Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Dendamnya yang Membara

Kekalahan di Perang Badar membuatnya tersulut dendam atas kekalahan yang menewaskan ayah, paman, saudara, dan anaknya itu. Ialah Hindun binti Utbah. Salah satu wanita Quraisy yang memiliki nama besar di Jazirah Arab. Ia adalah ibu khalifah Umawi; Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Setelah Perang Badar, kafir Quraisy tidak pernah merasa tenang karena kehormatan dan harga dirinya telah dirampas. Perkembangan-perkembangan yang terjadi kian mengobarkan kedengkian dalam diri mereka. Setahun berlalu, Makkah telah mempersiapkan segala sesuatunya. Para sekutu mereka ikut bergabung, tidak terkecuali dengan seluruh pihak yang dendam terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Abu Sufyan, panglima perang Makkah, berpandangan untuk mengajak kaum wanita agar lebih mendorong para pasukan untuk berperang mati-matian merebut kembali kehiormatan dan harga diri mereka.

Dalam peperangan kali ini, para pemimpin pasukan Quraisy membidik dua orang, yakni Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan Hamzah bin Abdul Muthalib.

Siapapun yang mendengar tutur kata dan rencana Quraisy sebelum berperang, pasti mengetahui Hamzah menjadi bidikan dalam perang setelah Rasulullah.

Sebelum berangkat, mereka menyusun strategi untuk membidik Hamzah. Salah seorang yang ditunjuk dalam strategi ini adalah Wahsyi, seorang budak dari Habasyah yang dijanjikan kebebasan tuannya jika berhasil membunuh Hamzah. Ia adalah budak milik Jubair bin Muth’im, paman Jubair sendiri tewas saat perang Badar.

Mereka pun akhirnya membawa Wahsyi ke Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan, agar cepat diberi semangat dan dorongan pada tujuan yang ingin mereka capai.

Itulah mengapa Hindun termasuk wanita Quraisy yang paling getol mendorong peperangan ini demi mendapatkan kepala Hamzah, meski berapa pun harga yang harus dibayar untuk peperangan ini.

Setiap hari Hindun tak punya kesibukan lain selain menuangkan kedengkiannya ke dalam dada Wahsyi, dan menentukan peran yang harus ia lakukan.

Hindun pun menjanjikan jika ia berhasil membunuh Hamzah maka ia akan diberi harta dan perhiasan paling mahal yang dimiliki seorang wanita.

“Ini semua menjadi milkmu jika kau berhasil membunuh Hamzah.” ujar Hindun sambil memegangi anting mutiara berharga dan kalung-kalung emas yang memenuhi leher. []

Api peperangan di medan Uhud semakin membara dengan dorongan para wanita Quraisy yang dipimpin Hindun.

 

Sumber: Ummul Qura, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, Karya Syaikh Mahmud Al-Mishri., hal 648.

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline