Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Dari Negeri Akhirat? Lantas Mau Kemana Engkau Pergi?

0

Suatu ketika pernah ada beberapa ulama saleh dan terhormat yang bersilaturahmi kepada Rabi’ah Al-Adawiyah mengajukan pertanyaan, “Wahai Rabi’ah, bagaimana hubunganmu dengan Allah di dunia ini?”

“Seperti hubungan antara tamu dan tuan rumah. Seorang tamu tidak perlu bersusah payah melayani dirinya, karena tuan rumahlah yang berkewajiban memuliakan dan melayani keperluan tamunya,” jawab Rabi’ah.

“Mengapa kau tidak langsung mengemukakan permasalahanmu kepada Allah dengan berdoa? Bukankah Allah memerintahkan kepada kita agar berdoa, dan Dia berjanji akan memperkenannya?” orang itu kembali bertanya.

“Saya merasa tidak perlu menyibukkan diri dengan hal tersebut. Buat apa saya bersusah payah berdoa, sedangkan saya telah mendapat jaminan di sisi-Nya. Dia yang paling mengetahui seluruh rahasia diriku, dan Dia pula yang lebih mengerti segala kebutuhanku sebelum saya ucapkan kepada seseorang,” jawab Rabi’ah.

“Engkau seorang yang banyak menangis. Namun, seolah-olah engkau tidak mengasihi terhadap dirimu sendiri. Mengapa hal itu engkau lakukan, wahai Rabi’ah?” yang lain mencoba mengajukan pertanyaan.

“Orang yang memaksakan dirinya bekerja keras ketika di dunia, akan memperoleh kenikmatan dan kasih sayang kelak pada hari kiamat,” jawab Rabi’ah tegas.

“Engkau tidak pernah berhenti dari bersedih dan berduka cita, wahai Rabi’ah. Apakah yang menyebabkan engkau demikian?” tanya orang itu lagi.

“Hal yang menyebabkan saya berduka cita dan bersedih hati adalah karena saya sama sekali tidak mengerti apakah Allah meridhai atau memurkai diriku,” jawab Rabi’ah.

“Selama ini kami melihat dirimu seperti orang yang terbuang (mengasingkan diri). Sebenarnya dari mana asalmu, wahai Rabi’ah?”

“Saya datang dari negeri akhirat.”

“Dari negeri akhirat? Lantas mau kemana engkau pergi?”

“Saya mau pergi ke alam akhirat!”

“Apakah yang engkau perbuat di dunia ini?”

“Saya mempermainkannya,” jawab Rabi’ah tegas.

“Apa maksudrnu dengan mempermainkannya itu?”

“Saya makan roti di dunia, namun saya beramal untuk akhirat,” jawab Rabi’ah.

Bila kita renungkan dan pikirkan agak mendalam apa yang dikatakan Rabi’ah Al-Adawiyah, bahwa ia datang duri akhirat dan akan kernbali ke sana, sangat jelas bahwa Rabi’ah Al-Adawiyah merwapai puncak keimanan yang tertinggi.

Mata hatinya telah mampu menyaksikan ahli surga dan ahli neraka. Surga dan neraka setiap saat terbentang di depan matanya. Baginya, kedua keadaan tersebut sudah tak asing lagi, sekalipun keataan surga dan neraka tidak bisa dilihat oleh mata biasa. []

Sumber: 165 Nafas-nafas Cinta, Kidung Cinta Rabiah Al-Adawiyah/Penulis:Rudyiyanto/Penerbit: Srigunting,2010

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline