Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Cahaya yang Berpindah dari Abdullah ke Aminah

0

Pada suaatu hari Abdul Muthalib pergi bersama putra yang di kasihinya yaitu Abdullah melewati Ka’bah. Saat itu di bawah Ka’bah ada seorang wanita yang bernama Qatala, kaum Bani Isad yang sedang duduk tersimpuh.

Ketika  Abdullah lewat di hadapannya, ia terkejut karena ketampanan dan keanehan pada diri Abdullah. Tanpa rasa malu ia berkata, “Tunggu sebentar! Saya akan menyerahkan seratus ekor unta kepada anda, jika anda mau memperistri saya.”

Abdullah pun berusaha menghindar dari wanita yang sedang lupa diri itu, “Saya bersama bapak saya,” kata Abdullah.

Abdullah berlalu meninggalkan wanita itu, menyusul ayahnya menuju rumah Wahab Ibnu Abdul Manaf yang mempunyai putri remaja bernama, Aminah. yang mana akhirnya menjadi istri Abdullah.

Setelah pernikahannya, banyak wanita yang merasa patah hati karena pria yang selalu mereka puja-puja telah dimiliki oleh orang lain. Namun hal itu tidak berlaku bagi Qatala, ia seolah tak peduli pada Abdullah. Padahal sebelumnya ia sampai lupa diri saat bertemu Abdullah.

Abdullah pun merasa heran dengan sikap Qatala. Akhirnya ia bertanya kepada Qatala, “Mengapa anda tidak mau menegurku dan membuang muka? Padahal kemarin anda begitu lupa diri dan menggodaku sedemikian rupa?”

“Siapa anda ini?” Tanya Qatala.

“Masa anda tidak tahu, aku Abdullah Ibnu Abdul Muthallib yang kemarin bertemu dengan anda,” jelasnya

“Oh, kiranya anda pria yang pernah bertemu dengan saya, dan dikening anda terdapat cahaya mengkilap? Kenapa cahaya itu kini menghilang? Bisa anda ceritakan apa yang terjadi sejak kita bertemu sampai sekarang,” pinta Qatala.

Akhirnya Abdullah bercerita bahwa beliau telah menikah dengan wanita bernama Aminah. Qatala percaya bahwa cahaya itu telah berpindah kepada Aminah.

“Saya tidak akan keliru. Di keningmu saya melihat cahaya gemerlapan, itu yang saya harapkan agar berpindah ketubuh saya. Tetapi derajat orang tidak dapat dipastikan dan diharapkan, ternyata sudah dimiliki orang lain yang akan melahirkan seorang bayi yang nantinya akan menjadi orang termulia di antara manusia dan paling baik di antara seluruh makhluk dan akan menjadi Nabi atau Rasul yang paling akhir. Yang saya harapkan dari anda kini sudah tidak ada,” kata Qatala.

Setelah mendengar cerita Qatala, Abdullah baru sadar dan bersyukur. []

Sumber: Riwayat Nabi Muhammad SAW Dan Tempat-Tempat Suci Agama Islam/ Penulis: H.M Doddy Fachrurizie, M.S., SH/ Penerbit: Angkasa, 2000

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline