Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Bumbu-Bumbu Surga

0

Para pakar hadis zaman dahulu menganggap bahwa hikayat-hikayat yang menyentuh hati dianjurkan untuk disampaikan tengah-tengah atau di akhir pengajian hadis dalam rangka menghibur hati dan menyegarkan pikiran.

Imam al-Hafizh Abu Sa’ad as-Sam’ani, seorang pakar hadis, meriwayatkan dari al-Filifizh at-Tsaib an-Nabil bahwa Sulaiman ibn Harb bercerita, “Saat kami bersama Hammad ibn Zaid, dia mengungkapkan beberapa hadis, kemudian dia berkata, ‘Hendaklah kalian mengambil bumbu-bumbu surga.’ Lantas dia menceritakan beberapa hikayat.”

Diriwayatkan dari Abu Hamid Ahmad ibn Mama al-Ashbahani, dia berkata, “Saya mendengar al-Baraqiyy berkata, ‘Cerita ibarat biji-bijian yang diburu oleh hati.'”

Diriwayatkan dari Abdurrahman keponakan al-Ashmu’i, dia berkata, “Saya mendengar paman saya bercerita: Ar-Rasyid berkata kepada saya, “Seringlah menceritakan hikayat-hikayat ini karena ia bagaikan butiran-butiran mutiara; bisa jadi di antaranya ada sebutir mutiara yang tak ternilai.”

Kata bumbu-bumbu surga yang diucapkan oleh Hammad ibn Zaid adalah kiasan dari hikayat-hikayat yang menyentuh hati; membuat pendengarnya merindukan kebaikan; sekaligus menghapus kejenuhan dan kebosanan jiwa. Termasuk di antaranya humor yang jenaka dan anekdot yang digemari serta kisah perjalanan hidup yang sarat teladan kesalehan dan agama. []

Sumber: Risalah al-Mustarsyidin: Tuntunan Bagi Para Pencari Petunjuk/ Penulis: Al-Harits al-Muhasibi/Penerbit: Qisthi Press

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline