Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Bumbu-Bumbu Surga

0 29

Para pakar hadis zaman dahulu menganggap bahwa hikayat-hikayat yang menyentuh hati dianjurkan untuk disampaikan tengah-tengah atau di akhir pengajian hadis dalam rangka menghibur hati dan menyegarkan pikiran.

Imam al-Hafizh Abu Sa’ad as-Sam’ani, seorang pakar hadis, meriwayatkan dari al-Filifizh at-Tsaib an-Nabil bahwa Sulaiman ibn Harb bercerita, “Saat kami bersama Hammad ibn Zaid, dia mengungkapkan beberapa hadis, kemudian dia berkata, ‘Hendaklah kalian mengambil bumbu-bumbu surga.’ Lantas dia menceritakan beberapa hikayat.”

Diriwayatkan dari Abu Hamid Ahmad ibn Mama al-Ashbahani, dia berkata, “Saya mendengar al-Baraqiyy berkata, ‘Cerita ibarat biji-bijian yang diburu oleh hati.'”

Diriwayatkan dari Abdurrahman keponakan al-Ashmu’i, dia berkata, “Saya mendengar paman saya bercerita: Ar-Rasyid berkata kepada saya, “Seringlah menceritakan hikayat-hikayat ini karena ia bagaikan butiran-butiran mutiara; bisa jadi di antaranya ada sebutir mutiara yang tak ternilai.”

Kata bumbu-bumbu surga yang diucapkan oleh Hammad ibn Zaid adalah kiasan dari hikayat-hikayat yang menyentuh hati; membuat pendengarnya merindukan kebaikan; sekaligus menghapus kejenuhan dan kebosanan jiwa. Termasuk di antaranya humor yang jenaka dan anekdot yang digemari serta kisah perjalanan hidup yang sarat teladan kesalehan dan agama. []

Sumber: Risalah al-Mustarsyidin: Tuntunan Bagi Para Pencari Petunjuk/ Penulis: Al-Harits al-Muhasibi/Penerbit: Qisthi Press

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline