Picture: Clker

Bola Mata Qatadah bin Nu’man

Pada perang Uhud, umat muslim awalnya mendapatkan kemenangan. Namun, karena kaum muslim tidak mengindahkan perintah Rasulullah SAW, akhirnya pada perang Uhud kaum muslim dapat terpukul mundur. Banyak para sahabat yang syahid serta terluka.

Rasulullah terkepung musuh, dahi dan bibir beliau terluka serta mengeluarkan darah. Qatadah bin Nu’man yang melihat hal itu, segera mendekati Rasulullah. Qatadah yang berani langsung memosisikan dirinya sebagai tameng Rasulullah dengan busur pemberian Rasulullah ia melawan musuh dengan gagah berani.

Qatadah bin Nu’man atau dengan nama asli Abdul Khatib termasuk kaum Anshar. Qatadah sering kali mengikuti perang bersama Rasulullah dan kaum muslim lainnya.

Setelah perang Uhud usai banyak para sahabat yang terluka termasuk Qatadah. Sebuah anak panah mengenai matanya saat ia melindungi Rasulullah. Anak panah itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Mata Qatadah terburai keluar hingga ia memegangnya dengan telapak tangannya. Darahnya pun terus mengucur. Keluarganya sangat sedih melihat penderitaan Qatadah.

“Qatadah, ijinkan kami mencari tabib agar ia memotong saja bola matamu,” kata keluarga Qatadah.

Qatadah ikhlas andai seterusnya matanya buta.

“Lagi pula, tabib mana yang sanggup mengobati matamu? Engkau akan buta dengan luka seperti itu,” kata mereka lagi.

Kabar mengenai sakitnya Qatadah terdengar oleh Rasulullah. Rasulullah mengutus seseorang untuk memanggil Qatadah.

“Wahai Qatadah, Rasulullah telah mendengar perihal sakit yang engkau derita. Beliau memintamu untuk datang menghadap,” kata utusan tersebut.

“Baiklah aku akan datang menemui Rasulullah,” jawab Qatadah. Ia pun segera berangkat menuju kediaman Rasulullah.

“Assalamu’alaikum, wahai Rasulullah…,” sapa Qatadah.

“Wa’alaikumsalam, wahai sahabatku. Kemarilah!”

Qatadah masuk dengan memegangi salah satu bola matanya yang menggelantung keluar. Saat melihatnya, Rasulullah menangis.

“Ya Allah, sesungguhnya Qatadah telah melindungi wajah Rasul-Mu dengan wajahnya sendiri. Maka jadikanlah mata yang terluka itu lebih baik dan lebih tajam dari mata satunya,” do’a Rasulullah untuk Qatadah

“Kemarilah, sahabatku. Mendekatlah kepadaku,” kata Rasulullah.

Qatadah menurut. Ia meringsut mendekati Rasulullah. Rasulullah memegang bola mata Qatadah, lalu memasukan kembali bola mata Qatadah yang terburai tersebut ke dalam pelupuknya. Atas ijin Allah. Seketika itu, mata Qatadah sembuh seperti semula, seolah tidak pernah terluka.

Allah telah memberikan mukjizat-Nya kepada Rasulullah. Dokter mana pun tidak akan mampu melakukannya.

Qatadah sangat senang karena matanya telah sembuh, bahkan penglihatan Qatadah lebih baik dari sebelumnya. Qatadah kembali aktif mengikuti peperangan sampai ia meninggal di usianya yang ke-70 tahun. []

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline