Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Berapakah Perempuan yang Halal Dinikahi Seorang Laki-Laki?

Suatu hari, terjadi pertengkaran antara Abu Ja’far Al-Manshur dan istrinya hingga menyebabkan keretakan rumah tangga. Masalahnya adalah sikap Abu Ja’far Al-Manshur kurang memperhatikannya. Istrinya meminta keadilan.

Abu Ja’far Al-Manshur berkata, “Siapakah orang yang engkau pilih sebagai penengah di antara kita?”

BACA JUGA: Ini Jawaban Abu Hanifah Ketika Ditanya Tentang Allah

Istrinya menjawab, “Imam Abu Hanifah.”

Abu Ja’far Al-Manshur setuju, maka didatangkanlah Imam Abu Hanifah. Abu Ja’far Al-Manshur berkata kepada Imam Abu Hanifah, “Ia melawanku, maka damaikanlah aku dengannya.”

Imam Abu Hanifah berkata, “Amirul Mukminin mesti menjawab. Berapakah perempuan yang halal dinikahi seorang laki-laki?”

Abu Ja’far Al-Manshur menjawab, “Empat.”

Imam Abu Hanifah bertanya, “Berapakah hamba sahaya perempuan yang halal bagi laki-laki.”

Read More

Siapa yang Tidak Beriman Itu?

Abu Ja’far Al-Manshur menjawab, “Tidak terbatas.”

Imam Abu Hanifah bertanya, “Apakah seseorang boleh mengatakan ada perbedaan pendapat dalam masalah itu?”

Abu Ja’far Al-Manshur menjawab, “Tidak.”

Kemudian Abu Ja’far Al-Manshur berkata kepada istrinya, “Engkau telah mendengar ucapan dan argumentasiku.”

Imam Abu Hanifah berkata, “Semua itu dihalalkan Allah untuk orang yang memiliki sifat adil. Siapa yang tidak memiliki sifat adil, atau khawatir untuk tidak bersikap adil, maka ia tidak boleh melebihi dari satu. Allah berfirman, “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorangsaja.” (An-Nisaa’: 3). Oleh sebab itu kita mesti berakhlak seperti akhlak yang telah disebutkan Allah, kita mengambil pelajaran dari yang telah disebutkan Allah.”

Abu Ja’far Al-Manshur terdiam lama. Kemudian Imam Abu Hanifah pun pergi. Ketika ia sampai di rumahnya. Istri Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur mengirimkan seorang pembantu kepadanya, juga uang, pakaian, hamba sahaya perempuan dan seekor keledai. Imam Abu Hanifah menolaknya.

BACA JUGA: Tatkala Kematian Manshur, Seratus Kuburan Digali di Dekat Mekkah

Ia berkata kepada pembantu itu, “Sampaikan salamku kepadanya. Katakan kepadanya bahwa aku hanya membela agamaku. Semua itu aku lakukan karena Allah. Aku tidak melakukan itu karena ingin mendekatkan diri kepada seseorang dan tidak pula untuk mencari keduniawian.” []

Sumber: Semua Ada Saatnya: seni menikmati hidup lebih seimbang/Penulis: Syaikh Mahmud Al-Mishri/Penerbit: Pustaka Al-Kautsar,2011

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline