Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Benarkah Rasulullah Sepanjang Hidupnya, Hidup dalam Keadaan Miskin?

0 81

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah figur sempurna. Beliau menjadi teladan umatnya dalam segala hal. Tidak hanya dari sisi teori, tapi juga pengamalan dari teori tersebut. Ada nabi yang tidak punya istri. Beliau memiliki istri. Ada nabi yang tidak punya anak. Beliau memiliki anak, bahkan cucu. Sehingga umat beliau bisa meniru beliau dengan status apapun yang mereka sandang.

Karena pentingnya sosok nabi untuk diteladani, menjadi penting pula memahami dengan benar rekam jejak kehidupan beliau. Setidaknya ada dua kesalahan umum di tengah masyarakat kita dalam memahami biografi beliau.

Benarkah Nabi itu sepanjang hidupnya, hidup dalam keadaan miskin?

Inilah pandangan umum pertama. Mereka meyakini hidup nabi adalah hidup yang sulit. Merujuk kepada beberapa data berikut ini:

Pertama: Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,

مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ

“Tidak pernah keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).

Kedua: Aisyah radhiallahu ‘anha juga menuturkan,

إِنْ كُنَّا آلَ مُحَمَّدٍ نَمكُثُ شَهْرًا مَا نَسْتَوْقِدُ بِنَارٍ ، إِنْ هُوَ إِلا التَّمْرُ وَالْمَاءُ

“Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apapun) kecuali kurma dan air.” (HR. Muslim 2972 dan at-Tirmidzi 2471).

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang bisa ditafsirkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang miskin. Di sisi lain, ada riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang kaya. Tidak hanya kaya, tapi kaya raya. Seperti riwayat-riwayat berikut ini:

Pertama: Riwayat dari Umar bin Khattab yang menceritakan kondisi perekonomian nabi setelah Perang Khaibar di tahun 7 H.

كانت لرسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث صفايا: بني النضير وخيبر وفدك ، فأما بنو النضير فكانت حبسا لنوائبه ، وأما فدك فكانت حبسا لأبناء السبيل ، وأما خيبر فجزأها رسول الله ثلاثة أجزاء ، جزأين قسمهما بين الناس ، وجزءا نفقة لأهله ، وما فضل عن نفقة أهله حبسه أو جعله في فقراء المهاجرين. رواه أبو داود

“Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tiga pilihan dari harta rampasan perang: Ladang peninggalan Bani Nadhir, ladang Khaibar, dan Fadak. Hasil ladang Bani Nadhir, beliau gunakan untuk membiayai berbagai keperluan beliau. Hasil ladang di Fadak, beliau persiapkan untuk orang-orang yang kehabisan bekal di perjalanan. Dan hasil ladang Khaibar beliau bagi menjadi tiga bagian: Dua bagian beliau bagi-bagikan kepada masyarakat, sedangkan bagian ketiga beliau gunakan untuk menafkahi keluarganya. Bila masih terdapat sisa, maka beliau wakafkan atau beliau distribusikan kepada kaum Muhajirin yang fakir miskin.” (Arifin Baderi, 2016, Konsep Kaya dan Miskin; Studi Anasilisa Status Sosial Nabi Muhammad, Hal: 22-23).

Dari hasil ladang negri Khaibar ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafkahi istri-istrinya. Setiap tahun, masing-masing istri beliau mendapatkan nafkah sebesar 100 wasaq (takar) ; 80 wasaq kurma dan 20 wasaq gandum (Arifin Baderi, 2016, Konsep Kaya dan Miskin; Studi Anasilisa Status Sosial Nabi Muhammad, Hal: 22-23).

Related Posts

Satu-satunya Istri Nabi yang Dikebumikan di Pemakaman Penuh Berkah

Sebagian literatur fiqih, menjelaskan bahwa 1 wasaq sebanding 60 Sha’a, dan satu Sha’a sama dengan 2040 gram, atau 2,040 Kg.

Berdasarkan data ini, maka kita dapat mengetahui bobot satu wasaq, yaitu: 2,040Kg x 60 = 122,4 Kg.

Selanjutnya berdasarkan hitungan ini, kita dapat mengetahui bahwa total nafkah yang beliau berikan kepada masing-masing istri beliau sebagai berikut: 80 x 122,4 = 9.792 Kg kurma.

20 x 122,4 = 2.448 Kg, gandum.

Bila kita asumsikan harga 1 Kg kurma senilai Rp 45.000, maka total nilai nafkah kurma setiap istri beliau ialah : 9.792 x Rp 45.000 = Rp. 440.640.000

Dan bila kita asumsikan harga 1 Kg gandum adalah Rp. 5.200,-

Maka nafkah gandum setiap istri beliau adalah senilai : 2.448 x Rp. 5.200 = Rp. 11.689.600

Bila nafkah kurma ditambahkan ke nafkah gandum maka total nila nafkah yang didapat oleh setiap istri beliau adalah = Rp. 440.640.000 + Rp. 11.689.600 = Rp.451.329.600.

Selanjutnya dapat diketahui nilai nafkah masing-masing istri beliau setiap bulan senilai Rp. 37.694.133,-

Padahal, beliau memiliki 9 orang istri, dengan demikian total nafkah beliau untuk seluruh istrinya, adalah: Rp. 451.329.600 x 9 = Rp.4.061.966.400,-

Dan masih banyak riwayat-riwayat lain yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang kaya raya.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami fase kehidupan sulit dan fase kekayaan. Di awal masa kenabian dan awal kedatangan di Madinah, beliau mengalami kondisi perekonomian yang sulit. Tapi di akhir kehidupan beliau, beliau menyandang status sebagai seorang yang kaya. Hanya saja beliau tidak mengubah gaya hidup yang sederhana dan bersahaja. Kekayaan harta digunakan bukan untuk meningkatkan belanja, tapi digunakan untuk meningkatkan pemberian.

Kaya dan miskin memiliki peluang yang sama untuk bertakwa kepada Allah. []

Baca juga: Ini yang Terjadi Tatkala Rasulullah di Istimewakan oleh Para Sahabat

Berbagai Sumber

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline