Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Bekas Kaki Ibrahim di Atas Batu

0

Maqam adalah batu yang digunakan Ibrahim a.s. untuk berpijak saat membangun Ka’bah, yaitu ketika bangunan tersebut telah melebihi tinggi tubuhnya.

Pada awalnya, kedua telapak kaki Ibrahim meninggalkan bekas pada batu tersebut, dan masih terlihat sampai zaman awal kedatangan Islam. Namun, lambat laun bekas tersebut hilang dikarenakan banyaknya sentuhan tangan manusia.

Bukti masih terlihatnya bekas telapak kaki Ibrahim pada zaman itu adalah perkataan Abu Thalib, “Bekas telapak Ibrahim terlihat jelas di atas batu, ia berdiri di atas kedua kakinya tanpa terompah.”

Diriwayatkan bahwa maqam tersebut pada awalnya menempel dengan bangunan Ka’bah. Kondisi itu bertahan sampai masa pemerintahan Umar ibn Khattab. Umar menggeser sedikit posisi maqam tersebut untuk memberi keleluasaan kepada orang-orang yang melakukan thawaf dan shalat di sekitar maqam. Para sahabat yang lain menyetujui tindakan Umar ini.

Allah SWT juga merestui perkataan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam ketika bersabda, “Kalau saja kita boleh memakai maqam Ibrahim untuk tempat shalat.”

Allah SWT berfirman, “Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.” (QS. Al-Baqarah: 125).

Perlu disampaikan di sini bahwa Ibrahim a.s. pulalah yang membangun Masjidil Aqsha, kendati yang meletakkan pondasinya adalah Ya’qub a.s.

Menurut sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, rentang waktu antara peletakan pondasi dan pembangunannya adalah 40 tahun. Adapun di hadis yang diriwayatkan an-Nasa’i disebutkan bahwa yang membangun Masjidil Aqsha adalah Sulaiman ibn Daud a.s.

Namun, perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan kata membangun dalam hadis ini adalah memperbaharui atau memugar. Penjelasan seperti ini dikemukakan oleh as-Suyuthi, Ibnu Qayyim, dan Ibnu Hajar. Menurut Dr. Abu Syuhbah, penggunaan kata membangun dengan arti “memugar” ini sering terjadi dalam bahasa Arab. []

Sumber: Biografi Rasulullah, Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik/Penulis: DR. Mahdi Rizqullah Ahmad/Penerbit: Qisthi Press,2005

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline