Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Beberapa Peristiwa Menakjubkan Saat Rasulullah di Isra’ kan

0

Peristiwa Isra’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan merupakan salah satu bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Selain itu, terdapat juga pelajaran bagi orang-orang berakal, petunjuk, rahmat dan penguat keimanan bagi orang yang beriman kepada Allah dan membenarkannya. Allah mengisrakan Rasulullah sebagaimana yang dikehendaki-Nya untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya seperti yang Dia inginkan, hingga beliau bisa menyaksikan bukti-bukti kekuasaan-Nya terutama dalam mengerjakan apa saja yang dihendaki-Nya.

Ibnu Ishaq menceritakan: Seperti beritakankan kepadaku, Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam menaiki Buraq, yaitu hewan yang membawa para nabi sebelum beliau. Kemudian beliau mengendarainya untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di antara langit dan bumi, hingga perjalanan beliau terhenti di Baitul Maqdis. Di sana, telah ada Ibrahim, Musa dan Isa dalam dan beberapa nabi yang sengaja telah dikumpulkan untuk bertemu beliau, kemudian beliau shalat mengimami mereka.

Usai shalat, tiga bejana; satu bejana berisi susu, satu bejana berisi minuman keras dan satu bejana berisi air didatangkan kepada beliau. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika itu ada yang berkata: Apabila dia mengambil air, ia tenggelam demikian pula dengan umatnya. Jika ia mengambil minuman keras, ia mabuk demikian pula dengan umatnya. Jika ia mengambil susu, ia mendapatkan petunjuk demikian pula dengan ummatnya.”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian aku mengambil bejana yang berisi susu dan meminumnya.”

Jibril berkata kepada Rasulullah, “Engkau telah mendapatkan petunjuk, demikian pula dengan ummatmu, wahai Muhammad.”

Ibnu Ishaq juga menceritakan: Aku diberi tahu dari Al-Hasan bahwa ia bercerita bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika aku sedang tidur di Hijr Aswad, Malaikat Jibril mendatangiku kemudian membangunkanku dengan kakinya. Akupun bangun namun tidak melihat apa-apa. Aku tidur lagi dan ternyata Malaikat Jibril datang kepadaku untuk kedua kalinya. Ia membangunkanku hingga aku tersadar, namun aku tidak melihat apa-apa. Aku kembali tidur lagi dan ternyata Malaikat Jibril datang kepadaku untuk ketiga kalinya, kemudian menggerak-gerakkan badanku hingga aku bangun. Ia lalu mengajakku pergi menuju pintu masjid dan ternyata di sana ada seekor hewan putih yang besarnya antara kuda dan keledai. Hewan tersebut rupanya memiliki sayap, ia mendorong kedua kakinya dengan kedua sayapnya dan memindahkan tangannya dalam setiap langkahnya di batas akhir pandangan matanya. Malaikat Jibril menaikiku di atas hewan tersebut, lalu ia keluar bersamaku. Ia tidak berpisah denganku dan aku tidak berpisah dengannya.”

Ibnu Ishaq melanjutkan: Aku mendapatkan riwayat dari Qatadah yang berkata bahwa ia diberitahu bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika aku mendekati hewan tersebut untuk menaikinya, hewan tersebut menunjukkan sikap tidak suka, kemudian Malaikat Jibril menegurnya dan berkata, “Kenapa engkau tidak malu atas apa yang engkau perbuat, wahai Buraq? Demi Allah, engkau memang pernah dinaiki hamba Allah sebelum Muhammad namun tak satupun dari mereka yang lebih mulia di sisi Allah daripada Muhammad.” Buraq pun merasa malu hingga keringatnya bercucuran. Setelah itu, ia bersikap jinak kemudian aku menaikinya.

Kemudian Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam terbang bersama Malaikat Jibril hingga beliau tiba di Baitul Maqdis. Di sana, telah ada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa dalam kumpulan para nabi. Kemudian Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam mengimami mereka shalat. Setelah itu, dua bejana; salah satu dari bejana tersebut berisi minuman keras, sedang bejana satunya berisi susu didatangkan kepada beliau.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam mengambil bejana yang berisi susu, kemudian meminumnya dan meninggalkan bejana berisi khamr minuman keras. Malaikat Jibril berkata kepada beliau, “Engkau dikaruniai petunjuk kepada fitrah demikian pula dengan ummatmu, wahai Muhammad, dan minuman keras diharamkan kepada kalian.”

Setelah itu, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam pulang ke Makkah. Keesokan harinya, beliau menceritakan apa yang beliau alami kepada orang-orang Quraisy.

Sebagian besar dari mereka berkata, “Demi Allah, ini adalah sesuatu yang sangat konyol. Betapa tidak?! Rombongan musafir yang jalannya cepat saja membutuhkan jarak tempuh selama sebulan untuk pergi dari Makkah ke Syam, apakah mungkin Muhammad pergi ke sana lalu pulang ke Makkah hanya dalam waktu semalam?”

Banyak orang yang tadinya telah masuk Islam menjadi murtad gara-gara peristiwa ini. Orang-orang Quraisy pergi kepada Abu Bakar, kemudian berkata kepadanya, “Coba tengok sahabatmu, wahai Abu Bakar? Ia mengaku pada malam ini pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana, kemudian pagi ini ia pulang ke Makkah!”

Abu Bakar berkata kepada mereka, “Apakah kalian mendustakan apa yang dikatakan?”

Mereka menjawab, “Ya, benar! Dia kini sedang berada di masjid sedang bercerita kepada manusia tentang apa yang baru dialaminya.”

Read More

Manajemen Waktu ala Rasulullah

Abu Bakar berkata, “Demi Allah, jika itu yang ia katakan, pasti ia berkata benar. Apa ada yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa ia berpindah dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya. Jadi inilah puncak keheranan kalian?”

Usai mengatakan itu, Abu Bakar berjalan hingga tiba di tempat Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berada.

Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Nabi Allah, benarkah engkau telah bercerita kepada manusia, bahwa pada malam ini engkau pergi ke Baitul Maqdis?”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya, benar.”

Abu Bakar berkata, “Kalau begitu, tolong, ceritakan kepadaku ciri-ciri Baitul Maqdis, karena sebelumnya aku pernah pergi ke sana!”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam lalu menjelaskan ciri-ciri Baitiul Maqdis kepada Abu Bakar.

Setelah mendapatkan penjelasan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam Abu Bakar berkata, “Engkau berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Setiap kali Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis, Abu Bakar berkata, “Engkau berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Usai bercerita, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Engkau wahai Abu Bakar adalah Ash-Shiddiq (orang yang membenarkan).”

Sejak peristiwa itulah, Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq.

Allah ‘Azza wa Jalla lalu menurunkan ayat mengenai orang-orang Islam yang murtad karena peristiwa Isra’:

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ ۚ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا…

…Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. al-Isra’: 60). []

 

Referensi: Sirah Nabawiyah perjalanan lengkap Kehidupan Rasulullah/ Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani/ Akbar Media

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline