Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Bayi yang Menyampaikan Jawaban dari Allah Atas Kegundahan

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan’”. (Qs Maryam: 23)

Saat kehamilan Maryam semakin membesar, maka Yusuflah yang menggantikan tugas Maryam membersihkan tempat ibadah dan menjaganya. Waktu melahirkan pun semakin dekat. Maryam mulia merasakan kesakitan menjelang melahirkan. Kemudian, dia pergi meninggalkan desa tempat tinggalnya.

Lalu, Maryam bersandar pada pohon kurma yang kering, tanpa ditemani siapapun yang akan menolong persalinannya.

Di sanalah Maryam, seorang diri berjuang melawan sakitnya melahirkan. Hingga akhirnya, di padang luas itu Maryam melahirkan putranya, Isa. Kesendirian itu membuat hatinya perih. Terlebih saat menatap sang buah hati. Kesedihan, kepiluan, dan kegetiran menghampiri batinnya. Saat itu, terbesit di hatinya berharap kematian sebelum dirinya menjadi seorang ibu yang melahirkan tanpa menikah.

Sungguh, Maryam tidak kuasa mendengar suara yang menggema di telinganya. Rasa takut pun muncul, ditemani linangan air mata yang tiada henti. Dan saat itu juga, puttra yang baru saja dilahirkannya, memanggilnya,

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.’” (Qs Maryam: 24)

Dan, air sungai pun mengalir ditanah yang tandus itu. Lalu, ia berujar kembali,

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (Qs Maryam:25)

“Makanlah buah kurma dari pohon itu agar kekuatanmu kembali pulih, minumlah air yang mengalir di bawah kakimu, dan tenangkanlah hatimu dengan semua kekuasaan-Nya yang telah kamu lihat, seperti berbuahnya pohon kurma yang sudah kering dan mengalirnya mata air di padang tandus.”

Maha suci Allah, bayi yang baru saja ia lahirkan seakan memberi jawaban dari Allah atas kegundahan yang tengah ia rasakan, memahami isi hati yang tengah dia pikirkan. Hingga akhirnya, perkataan putranya itu cukup membuatnya terbebas dari kegundahan dan dia pun menunaikan kewajiban yang telah diamanatkan kepadanya.

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (Qs Maryam: 26) []

Sumber: Wanita-wanita Hebat, Kisah Memikat di Balik Geliat Dakwah Para Nabi/ Penulis: Ibrahim Mahmud Abdul Radi/ Penerbit: Almahira, 2009

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More