Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Baru juga Dipakai Ternyata Sudah Diminta

0 3

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dalam sebagian besar perjalanan hidupnya, bukan orang kaya. Beliau tidak tinggal di rumah besar. Beliau tidak memiliki lemari pakaian yang mengilap.

Bahkan, beberapa potongan bajunya dipakai di baju yang lain untuk menutupi sobek yang telah muncul.

Seorang wanita yang baik memutuskan untuk menjahitkan sebuah jubah baru yang indah untuk Nabi.

Beliau sangat senang dan berkata “Alhamdulillah.” Beliau langsung memakainya karena sangat membutuhkannya. Semua pakaian lainnya sudah cukup tua atau hampir aus.

BACA JUGA: Dimana Makam Nabi Adam?

Suatu hari, seorang Sahabat melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan jubah baru yang indah itu. Sahabat tersebut berkomentar dengan gembira, “Subhanallah. Menakjubkan. Betapa jubah indah yang kaupunya, wahai Nabi. Seandainya kau memberikannya kepadaku.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum, melepaskan jubahnya dan memberikannya kepada sahabah tersebut sebagai hadiah. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu pulang.

Kemudian, sahabat lain yang melihat atau mendengar tentang apa yang terjadi mulai mengejek sahabat tersebut. “Tidakkah kamu takut kepada Allah? Tidak bisakah kamu melihat bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat membutuhkan jubah baru itu? Mengapa kamu meminta jubahnya? Kau tahu Beliau sangat sangat murah hati. Beliau tidak akan menolak siapapun yang meminta apapun yang Beliau miliki. Beliau selalu senang membuat kita bahagia. ”

Begitulah karakter Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah pria tanpa pamrih, baik hati, perhatian, baik, dermawan, bijaksana. Beliau selalu memikirkan orang lain. Jika seseorang sepertinya membutuhkan sesuatu yang lebih daripada beliau, beliau akan, dalam sekejap, memberikan barangnya pada orang itu. Bahkan jika Beliau baru saja mendapatkan barang itu sebagai hadiah.

BACA JUGA: Mahar yang Berupa Baju Besi

“Demi Allah, aku tidak meminta jubah ini agar aku bisa memakainya. Aku meminta jubah ini karena aku ingin dibungkus di dalamnya,” kata sahabat tersebut.

Benar saja, sahabat tersebut meninggal tak lama setelah kejadian tersebut. Para sahabat memandikannya dan menguburnya, menyelimutinya dengan jubah yang dulu dimiliki oleh Nabi tercintanya. []

Sumber: Fashion & Selfishness – Sheikh Assim Al Hakeem”

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline