Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pelaksanaan Baiat Aqabah Kedua (Bagian 2 Habis)

0

Ahmad meriwayatkan dari Jabir poin-poin bai’at secara rinci. Jabir menuturkan, “Sebelum bai’at, kami bertanya, ‘Rasulullah, untuk apa saja kami melakukan bai’at kepadamu’?”

Beliau bersabda, ‘Bersumpahlah untuk selalu mematuhiku dalam segala kondisi, berinfak saat senang dan susah, menyuruh orang mengerjakan kebaikan dan mencegah mereka melakukan kemungkaran, membela agama Allah di jalan-Nya dan tidak terpengaruh oleh hinaan, bersedia menolongku jika aku nanti datang ke tempat kalian, dan melindungiku seperti kalian melindungi diri kalian, istri, serta anak-anak kalian. Maka kalian berhak mendapatkan surga’.”

Sedangkan dalam riwayat Ka’ab yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq ini, hanya disebutkan poin terakhir. Ka’ab menuturkan bahwa setelah Abbas bicara, giliran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengutarakan beberapa patah kata.

Beliau membacakan al-Qur’an dan berdoa kepada Allah, kemudian menyerukan Islam. Selanjutnya beliau bersabda, “Aku membai’at kalian untuk melindungiku dari segala hal sebagaimana kalian melindungt istri dan anak-anak kalian.”

Barra’ bin Ma’rur memegang tangan beliau dan berkata, “Ya, demi Dzat yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, kami akan melindungimu sebagaimana kami inelindungi keluarga kami. Bai’atlah kami, Rasulullah. Demi Allah, kami adalah orang-orang yang biasa berperang dan ahli memainkan senjata. Kami mewarisi keahlian itu turun-temurun.”

Belum selesai Barra’ bicara, Abu Haitsam bin Taihan menyela, “Rasulullah, kami punya ikatan dengan orang-orang Yahudi. Sekarang kami akan memutus hubungan dengan mereka. Lalu jika kami berbaitat kepadamu, kemudian Allah membuatmu jaya, akankah Engkau pulang kepada kaummu dan meninggalkan kami?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tersenyum sebelum bersabda, “Darah kalian adalah darahku. Kehancuran kalian adalah kehancuranku. Aku adalah bagian dari kalian dan kalian adalah bagian dari diriku. Aku akan memerangi siapa pun yang kalian perangi, dan akan berdamai dengan siapa pun yang kalian ajak berdamai.”

Setelah membahas syarat-syarat bai’at yang kemudian disepakati, berdirilah dua orang Anshar yang masuk Islam pada musim haji tahun ke-11 dan ke-12 kenabian. Mereka bermaksud menegaskan kembali kepada kaumnya risiko yang akan mereka hadapi akibat bai’at ini. Tujuannya agar mereka berbai’at kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman yang jelas, sekaligus mengukur sejauh mana kesiapan mereka untuk berkorban. Kedua orang ini ingin memastikan hal tersebut.

Menurut Ibnu Ishaq, ketika mereka sudah berkumpul untuk berbai’at, Abbas bin Ubadah bin Nadhlah bertanya, “Apakah kalian menyadari apa yang kalian janjikan kepada lelaki ini?”

Mereka serempak menjawab, “Ya.”

Abbas berkata lagi, “Sesungguhnya kalian berbai’at kepadanya untuk memerangi bangsa-bangsa berkulit merah atau hitam. Karena itu, kalau kalian menganggap habisnya harta kalian sebagai musibah, dan terbunuhnya pemimpin-pemimpin kalian sebagai petaka, Ialu kalian serahkan lelaki ini kepada musuh, lebih baik dari sekarang urungkan saja bai’at kalian. Karena, demi Allah, jika kalian lakukan juga, kalian akan terhina di dunia dan akhirat. Akan tetapi, jika kalian merasa sanggup menepati janji kalian untuk siap kehilangan harta dan pemimpin kalian, maka lakukanlah bai’at. Sebab, sumpah setia ini, demi Allah, membawa kebaikan dunia dan akhirat.”

Mereka menjawab, “Kami siap melakukan bai’at walau harus kehilangan harta dan para pemimpin kami. Lalu, apa yang akan kami dapatkan sebagai balasan atas semua itu, Rasulullah?”

Beliau menjawab singkat, “Surga.”

Mereka pun berkata kepada beliau, “Ulurkan tanganmu, wahai Rasulullah!”

Beliau mengulurkan tangan, lalu mereka pun berbai’at kepada beliau.

Dalam riwayat Jabir disebutkan, “Kami berdiri untuk berbai’at kepada Rasulullah. Namun, As’ad bin Zurarah menahan tangan beliau. Dia adalah yang termuda dari 70 peserta bai’at. Katanya, ‘Tunggu dulu, warga Yatsrib. Kita tidak boleh begitu saja mendukung lelaki ini sebelum tahu betul bahwa dia memang Rasul Allah. Membawanya keluar dari Mekah sama artinya dengan memisahkan diri kita dari bangsa Arab. Ini bisa menyebabkan pemimpin-pemimpin kalian terbunuh dan leher kalian tertebas pedang. Kalau kalian sanggup menghadapi hal itu, lanjutkanlah bai’at. Mudah-mudahan Allah melimpahkan pahala kepada kalian. Namun, jika kalian masih takut kehilangan diri kalian, sebaiknya tinggalkan saja dia, semoga Allah mengampuni kalian.”

Setelah poin-poin bai’at disepakati dan risiko bai’at ditegaskan, proses bai’at pun dimulai dengan menjabat tangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Jabir menuturkan bahwa setelah As’ad menegaskan kembali risiko yang bakal dihadapi kaum Anshar, mereka menukas, “Sudahlah, As’ad, ulurkan tanganmu! Demi Allah kami tidak akan meninggalkan bai’at ini dan membatalkannya.”

As’ad kini yakin benar dengan kesiapan kaumnya untuk berkorban. Dia pun segera melaksanakan bai’at tanpa ragu. Menurut Ibnu Ishaq, Abu Umamah As’ad bin Zurarah adalah orang yang pertama kali menjabat tangan Rasulullah untuk bai’at.

Setelah As’ad, bai’at dilakukan secara umum kepada seluruh peserta yang hadir. Jabir menuturkan, “Setelah As’ad berbai’at, kami mendekati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam satu persatu untuk melakukan bai’at. Beliau menjanjikan surga kepada kami jika menepati bai’at ini.”

Sedangkan baiat kedua perempuan yang ikut hadir disitu dengan ucapan saja. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak berjabat tangan dengan perempuan. []

Baca juga: https://www.jalansirah.com/pelaksanaan-baiat-aqabah-kedua-bagian-1.html

Sumber: Ar-Rahiq al-Makhtum: Sirah Nabawiyah/Penulis: Shafiyurrahman al-Mubarakfuri

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline