Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Bagaimanakah Kedudukanku di Sisi Allah?

0

Para ulama harus mampu memberikan nasihat untuk pemerintah. Mereka harus mengingkari kemungkaran pemerintah, menasihati mereka, dan menakut-nakuti mereka dari Allah dan hisab-Nya. Terdapat sebuah kisah, ialah Sufyan ats-Tsauri. Ia menemui Abu Ja’far al-Manshur di Mina.

Al-Manshur berkata padanya, “Kemukakan pada kami keperluanmu.”

Sufyan ats-Tsauri menjawab, “Bertakwalah kepada Allah, kau telah memenuhi bumi dengan kelaliman dan kejahatan.”

Al-Manshur langsung menundukkan kepalanya, lalu mengangkatnya dan berkata, “Kemukakan pada kami keperluanmu.”

Sufyan ats-Tsauri menjawab, “Sesungguhnya kamu sampai pada posisi seperti ini berkat pedang kaum Muhajirin dan Anshar, dan anak-anak mereka mati kelaparan, maka bertakwalah kepada Allah dan sampaikan kepada mereka hak-hak mereka.”

Al-Manshur menundukkan kepalanya, lalu mengangkatnya dan berkata, “Kemukakan pada kami keperluanmu.”

Ats-Tsauri menjawab, “Umar ibnul-Khaththab berhaji dan bertanya kepada bendaharanya, ‘Berapa yang telah kamu belanjakan?’ Bendaharanya menjawab, ‘Hanya sepuluh dirham lebih beberapa dirham saja.’ Dan di sini aku melihat harta melimpah yang unta tiada kuat membawanya.”

Setelah itu, ats-Tsauri langsung keluar. Dan, inilah Abu Hazim yang masuk menemui Sulaiman bin Abdul Malik laht ditanya, “Bagaimanakah keadaan menghadap kepada Allah?”

Abu Hazim menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, adapun orang yang berbuat baik maka seperti orang yang lama pergi kembali datang kepada keluarganya. Sedangkan, orang yang berbuat buruk maka seperti budak durhaka yang kembali kepada tuannya.”

Sulaiman lalu menangis dan berkata, “Duhai bagaimanakah kedudukanku di sisi Allah?”

Abu Hazim menjawab, “Bercerminlah dirimu pada kitab Allah yang mengatakan, ‘Sesungguhnya orang-orang yang berbuat jahat ada dalam neraka.’ (al-Infithaar: 14)

Sulaiman bertanya, “Apa yang kaukatakan mengenai keadaan kami?”

Abu Hazim menjawab, “Tidakkah kau memaafkan aku untuk tidak mengatakannya?”

Sulaiman berkata, “Kauharus mengatakannya. Itu adalah nasihat yang harus kausampaikan padaku.”

Abu Hazim berujar, “Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya bapak-bapakmu menindas manusia dengan pedang. Mereka merampas kerajaan ini dengan paksa tanpa musyawarah dan kerelaan kaum muslimin. Sampai-sampai membunuh banyak kaum muslimin. Dan, mereka kini telah tiada. Andai saja kaubisa merasakan apa yang mereka katakan dan apa yang dikatakan orang tentang mereka!”

Lalu seorang lelaki dari kalangan dekat Sulaiman menyahut, “Yang kaukatakan sungguh seburuk-buruk perkataan.”

Abu Hazim menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengambil ikatan pada ulama agar menjelaskannya pada manusia dan tidak menyembunyikannya.”

Sulaiman berkata, “Berdoalah untukku!”

Abu Hazim lalu berdoa, “Ya Allah, jika Sulaiman walimu, maka mudahkanlah dia untuk kebaikan dunia dan akhirat. Jika dia musuhmu, ambillah ubun-ubun kepalanya pada apa yang Kausukai dan Kauridhai!”

Sumber:Menyucikan Jiwa/Penulis: Dr. M. Abdul Qadir Abu Faris/Penerbit: Gema press,2005

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline