Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ayah Nabi yang Hendak Diqurbankan oleh Kakeknya (Bagian 1)

0

Menurut sebagian besar orang, dan hanya Allah yang lebih tahu, Abdul Muthalib bernazar tatkala dia mendapatkan apa yang dia dapatkan dari orang-orang Quraisy saat menggali Sumur Zamzam bahwa jika ia mempunyai sepuluh anak dan mereka besar sementara ia mampu melindunginya, ia akan menyembelih (qurban) salah seorang dari mereka untuk Allah di samping Ka’bah.

Ketika anaknya sudah berjumlah sepuluh, dan ia mengetahui bahwa mereka akan mencegah dan menghalanginya. Maka iapun mengumpulkan anak-anaknya untuk menjelaskan nazarnya serta mengajak mereka menetapi nazar untuk Allah itu. Mereka mentaatinya dan berkata, “Apa yang semestinya harus kami lakukan?”

Abdul Muthalib berkata, “Setiap orang dari kalian mengambil satu dadu lalu menulis namanya di atasnya, lalu tunjukkan hasilnya padaku.”

BACA JUGA: Wahai Ayah, Surga Firdaus Adalah Tempat Tinggalmu

Merekapun mengerjakan apa yang diperintahkan Abdul Muthalib lalu mereka menemui bapaknya. Abdul Muthalib membawa mereka ke Patung Hubal di dalam Ka’bah. Patung Hubal terletak di atas sumur di dalam Ka’bah. Sumur tersebut adalah tempat dikumpulkannya apa yang mereka persem- bahkan untuk Ka’bah. Di sisi Patung Hubal terdapat tujuh dadu dan pada setiap dadu terdapat tulisan Al-‘Aqlu (diyat, denda atas darah). Pada saat itu jika orang-orang Quraisy, berselisih tentang siapa yang berhak menanggung tebusan, mereka mengocok ketujuh dadu tersebut. Jika yang keluar Al-‘Aqlu, maka diyat harus ditanggung oleh orang yang keluar namanya pada dadu tersebut.

Di antara dadu tersebut terdapat tulisan Na’am untuk satu hal yang mereka inginkan. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka mengocok kotak dadu. Jika yang muncul adalah dadu yang bertuliskan Na’am, mereka mengerjakan apa yang diinginkan. Ada pula dadu yang bertuliskan Laa. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka mengkocok dadu. Apabila yang muncul adalah dadu yang bertuliskan Laa mereka tidak mengerjakan apa yang diingkan. Ada pula dadu yang bertuliskan Minkum, ada yang bertuliskan Mulshaq, ada tulisan Min Ghairikum, dan Al-Miyahu.

Apabila mau menggali sebuah sumur mereka mengocok dadu, dan tulisan apapun yang keluar maka mereka mengerjakan sesuai dengan tulisan yang muncul itu. Jika orang-orang Quraisy mau mengkhitan, atau menikahkan anak-anak atau memakamkan jenazah mereka, atau ragu-ragu mengenai garis keturunan salah seorang dari mereka, mereka pergi membawa orang itu kepada Hubal sembari tidak lupa membawa uang sejumlah seratus dirham dan hewan sembelihan kemudian mereka memberikannya kepada penjaga dadu.

Mereka mendekatkan sahabat yang mereka inginkan sesuatu padanya sambil berkata, “Wahai Tuhan kami, inilah Si Fulan bin Fulan. Kami menginginkan ini dan itu untuknya. Maka tampakkanlah kebenaran baginya.”

Related Posts

BACA JUGA: Ibrahim: Ada Berapa Banyak Tuhan, Ayah?

Kemudian mereka berkata kepada penjaga kotak dadu, “Lakukan undian dengan dadu itu!” Jika yang muncul dadu yang bertuliskan Minkum, maka orang tersebut menjadi bagian dari mereka. Jika yang muncul dadu yang bertuliskan Min Ghairikum, orang tersebut menjadi sekutu bagi mereka. Jika yang keluar adalah dadu yang bertuliskan Mulshaq, maka orang tersebut akan ditempatkan sesuai dengan kedudukan yang ada di tengah mereka; tidak mempunyai nasab dan persekutuan. Jika yang muncul adalah dadu yang bertuliskan Na’am, mereka mengerjakan hal tersebut. Jika yang keluar adalah dadu yang bertuliskan Laa, mereka menunda perkara tersebut hingga tahun depan lalu pada tahun berikutnya mereka datang kembali.

Jadi mereka menggantungkan segala perkara mereka kepada dadu yang muncul. Abdul Muthalib berkata kepada penjaga dadu, “Undilah anak-anakku sesuai dengan dadu mereka.”

Abdul Muthalib memberikan penjelasan pada penjaga dadu tentang nazarnya, kemudian penjaga dadu memberi dadu untuk setiap anak-anak Abdul Muthalib sesuai dengan nama yang ada di dalamnya. Adapun Abdullah bin Abdul Muthalib adalah anak terakhir Abdul Muthalib. Ibu Abdullah, Az-Zubayr, dan Abu Thalib adalah Fathimah binti Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah bin Ka ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Ibnu Hisyam berkata: A’idz anak Imran bin Makhzum. Ibnu Ishaq berkata: Menurut sebagai pakar, Abdullah merupakan anak yang paling dicintai oleh Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib memandang, jika ternyata dadu mengenai dirinya maka dia akan disisakan. Ia adalah ayah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam. Tatkala penjaga dadu mengambil dadu untuk mengadakan undian, Abdul Muthalib bangkit dari duduknya kemudian berdoa kepada Allah di sisi Hubal, sementara penjaga dadu mengocok dadunya, namun ternyata dadu yang muncul adalah atas nama Abdullah. Abdul Muthalib memanggil Abdullah dan mengambil pisau panjang lalu membawa Abdullah ke patung Isaf dan Nailah untuk di sembelih. Orang-orang Quraisy beranjak dari balai pertemuan mereka dan datang menemui Abdul Muthalib.

Mereka berkata, “Apa yang engkau mau, wahai Abdul Muthalib?”

Abdul Muthalib menjawab, “Aku akan membunuhnya.”

Sumber: Sirah Nabawiyah perjalanan lengkap Kehidupan Rasulullah/ Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani/ Akbar Media

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline