Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Arti dari Mimpi Hasan Al-Bashri

0

Di antara Hasan Al-Bashri dan lbnu Sirin ada rasa iri. Keduanya tidak mau saling menyapa. Setiap kali mendengar orang lain menyebut nama Ibnu Sirin, Hasan Al-Bashri merasa tidak suka.

“Jangan sebut nama orang yang berjalan dengan lagak sombong itu di hadapanku,” katanya.

Pada suatu malam, Hasan Al-Bashri bermimpi seolah-olah dia sedang telanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat. Ketika bangun pada pagi hari, dia merasa bingung dengan mimpinya. Tiba-tiba, dia teringat bahwa Ibnu Sirin adalah orang yang pandai menafsirkan mimpi. Karena merasa malu bertemu sendiri dengan Ibnu Sirin, Hasan Al-Bashri meminta tolong kepada teman dekatnya.

“Temui Ibnu Sirin dan ceritakan mimpiku ini seakan-akan kamu sendiri yang mengalaminya!” pesannya.

Teman dekat Hasan Al-Bashri segera menemui Ibnu Sirin. Begitu selesai menceritakan isi mimpi tersebut, Ibnu Sirin langsung berkata, “Bilang kepada orang yang mengalami mimpi ini, jangan menanyakannya kepada orang yang berjalan dengan lagak sombong. Kalau berani, suruh dia datang sendiri kemari!”

Mendengar hal itu dari temannya, Hasan Al-Bashri kesal. Dia bingung dan merasa tertantang. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia memutuskan bertemu langsung de-ngan Ibnu Sirin. Dia tidak peduli dengan rasa malu atau gengsinya.

“Antarkan aku ke sana!” kata Hasan Al-Bashri.

Begitu melihat kedatangan Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin menyambutnya dengan baik. Setelah saling mengucap salam dan berjabat tangan, lalu masing-masing mengambil tempat duduk yang agak berjauhan.

“Sudahlah, kita tidak usah berbasa-basi. Langsung saja, aku bingung memikirkan dan menafsirkan sebuah mimpi,” kata Hasan Al-Bashri.

“Jangan bingung,” kata Ibnu Sirin, “Telanjang dalam mimpimu itu adalah ketelanjangan dunia. Artinya, engkau sama sekali tidak bergantung padanya karena engkau memang orang yang zuhud. Kandang binatang adalah lambang dunia yang fana. Engkau telah melihat dengan jelas keadaan sebenarnya. Sedangkan, sebatang tongkat yang engkau buat itu adalah lambang hikmah yang engkau katakan dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang.”

Sesaat, Hasan Al-Bashri terkesima. Dia kagum atas kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli tafsir mimpi dan percaya sekali pada penjelasannya.

“Tetapi, bagaimana engkau tahu kalau aku yang mengalami mimpi itu?” tanya Hasan Al-Bashri.

“Ketika temanmu menceritakan mimpi tersebut kepadaku. aku berpikir. Menurutku, hanya engkau yang layak mengalaminya,” jawab Ibnu Sirin. []

Sumber:100 Kisah Islami Pilihan/Penulis: Salman Iskandar/Penerbit: Mizan,2009

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline