api,cemburu,cinta,api cemburu,sarah,nabi ibrahim
Foto: muslimat hidayatullah

Api Cemburu Sarah

Romantika cinta dan hubungan setiap insan dalam rumah tangga selalu saja ada. Tak terlepas dengan para Nabi dan kekasih Allah. Saat itu, hubungan rumah tangga Khalilullaah Ibrahim as dibumbui dengan angin dan api kecil kecemburuan, utamanya dari istri beliau Sarah ibunda Nabi Ishaq as.

BACA JUGA: Kebohongan Nabi Ibrahim tentang Sarah

Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Hajar, istri Nabi Ibrahim a.s yang menjadi ibu dari Nabi Isma’il, melahirkan Putra pertama Nabi Ibrahim itu, saat ayahandanya berusia 86 tahun, tiga tahun sebelum kelahiran Nabi Ishaq dari Sarah.

Hajar tadinya adalah seorang budak belian milik Sarah yang dipasrahkan untuk diperistri Nabi Ibrahim, kecemburuan Sarah datang menjadi setelah Hajar melahirkan Isma’il, dan meminta kepada Nabi Ibrahim agar membawa pergi mereka berdua.

Nabi Ibrahim membawa mereka berdua pergi dan menempatkannya di sebuah lembah yang saat ini kita kenal sekarang dengan nama Mekkah.

Nabi Ibrahim pun meninggalkan keduanya di sana dan beranjak pergi, Hajar menghampiri dan menariknya.

Ia berkata, “Ibrahim! Hendak ke mana engkau dan meninggalkan kami di sini tanpa perbekalan yang cukup untuk kami? Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?” Sambung Hajar.

“Ya,” jawab Ibrahim.

“Kalau begitu, Dia tidak akan menelantarkan kami,” lanjut Hajar.

BACA JUGA: Kesabaran Sarah Sang Wanita Mandul

Syaikh Abu Muhammad bin Abu ZAid menyebutkan dalam ‘An-Nawadir’, Sarah marah kepada Hajar hingga ia bersumpah akan memotong tiga bagian tubuhnya.

Lalu Ibrahim menyuruh Sarah untuk menindik kedua telinganya dan menyunatnya, lalu terbayarlah sumpahnya.

Syaikh Suhaili mengatakan, “Hajar adalah wanita pertama yang disunat, ditindik (anting), dan wanita pertama yang memanjangkan bagian belakang baju. []

Sumber:   Qishahul Anbiya/ karya Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Katsir (Ibnu Katsir)/Jakarta: Ummul Qura (2013)

Artikel Terkait :

About عبد الله

Check Also

Beginilah Akhirnya Bila Hanya Mencintai Rupa

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata, “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

you're currently offline