Foto: Freepik

Apakah Itu Abdul Aziz?

Adil bukan hanya harus diterapkan dalam kehidupan bernegara, namun juga dalam rumah tangga. Sebagaimana kecemburuan sosial bisa terjadi di masyarakat, maka hal itupun juga bisa terjadi di rumah tangga. Antara anak yang satu dengan yang lainnya.

Di tengah-tengah anak yang banyak. Tentunya membuat  Umar bin Abdul Aziz harus hati-hati dalam berinteraksi dengan mereka. Jangan sampai ada yang merasa direndahkan dari yang lainnya. Sehingga ukhuwah tetap bisa terjaga dengan baik. Mereka akan terlihat rukun. Dan yang pasti, perselisihan pun terminimalisir.

Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz bermaksud untuk bersikap adil pada anak-anaknya. Iapun memanggil salah satu anak lelakinya bersama Haritsiyah untuk tidur bersamanya. Karena jika ia di-biarkan sendiri, Umar takut tidak adil padanya.

Lalu masuklah salah satu anaknya yang bernama Abdul Aziz ke kamar.

Umar pun segera bertanya, “Apakah itu Abdul Aziz?”

“Ya!” jawab Abdul Aziz.

“Ada apa kamu kemari, nak? Masuklah!”

Lalu Abdul Aziz duduk di atas gelaran kain. “Ada apa?” tanya Umar.

“Engkau memperlakukan putera Haritsiyah dengan sesuatu yang tidak engkau berikan pada kami. Aku tidak puas dengan jawaban bahwa engkau melihat sesuatu padanya yang itu tidak engkau lihat pada kami.”

“Adakah seseorang yang memberitahumu tentang hal ini?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, kembalilah kamu ke kamarmu.”

Abdul Aziz beranjak pergi menuju kamarnya bersama dengan Ibrahim, ‘Ashim dan Abdullah. Mereka bermaksud untuk tidur bersama. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan putera Haritsiyah yang membawa gelaran tikar.

“Apa urusanmu kesini?” tanya mereka kepada saudara tirinya itu.

“Urusanku adalah ingin memenuhi apa yang kamu inginkan dariku.”

Maksudnya adalah, putera Haritsiyah ingin tidur bersama dengan mereka, karena takut berbuat dhalim kepada saudara-saudaranya.[]

Referensi: Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia/Karya: Herfi Ghulam Faizi, Lc/Penerbit: Cahaya Siroh

 

About Admin 1

Check Also

Manisnya Menggigit Iman

Iman yang mantap disertai keteguhan hati bisa disejajarkan dengan sebuah gunung yang tidak bisa diusik.

you're currently offline