Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Apakah Engkau Mau Menjadi Hidangan Bagi Ulat-ulat?

0

Suatu hari Rabi’ah Al-‘Adawiyah pergi ke padang pasir untuk memperbarui tafakurnya. Ia pergi ke padang yang luas, yang tak kelihatan batas tepinya. Ini ia maksudkan untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk kota Bashrah.

Ketika itulah ia didatangi sekumpulan binatang liar dan yang jinak. Semuanya berkumpul di sekitarnya. Binatang-binatang itu berdekatan antara satu sama lainnya. Tidak ada yang saling mengganggu. Semuanya diam.

Binatang yang bertanduk tidak mengganggu binatang yang tidak bertanduk. Tidak tampak permusuhan. Sebuah pemandangan yang mengagumkan!

Rabi’ah Al-‘Adawiyah asyik dalam tafakurnya, dan binatang-binatang itu pun diam, tenang. Dan dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba Hasan al-Bashri datang ke tempat itu dengan tujuan yang sama, tafakur.

Akan tetapi, kehadiran Hasan al-Bashri justru membuat binatang-binatang itu lari kocar-kacir.

Keadaan ini membuat Hasan sedih. “Mengapa binatang-binatang itu lari dariku, tapi jinak dengan Rabi’ah,” bisiknya dalam hati.

Akhirnya Rabi’ah Al-‘Adawiyah ditanya, “Mengapa kijang itu lari dariku tapi jinak di sampingmu?”

“Apa yang Anda makan sebelum kemari?”

Related Posts

Dialog Tingkatan Keikhlasan

Pertanyaan itu membuat Hasan menjadi heran, “Apa hubungannya makanan yang kumakan dengan larinya hewan dariku?”

“Aku makan bawang yang dimasak dengan lemak daging,” lanjut Hasan.

Mendengar itu, Rabi’ah Al-‘Adawiyah lalu berteriak keras seperti suara lelaki, “Bagaimana hewan tidak lari darimu, sedangkan engkau telah memakan lemaknya?”

Tak lama kemudian Rabi’ah Al-‘Adawiyah nielanjutkan, “Kau tahu, sekiranya tubuhmu kurus kering seperti semut, niscaya ulat-ulat tak berminat melubangi kuburmu. Jika engkau hanya memakan sebiji kurma setiap hari, pastilah jasadmu dalam kubur selamat dari ulat. Apakah engkau mau menjadi hidangan bagi ulat-ulat?

“Sesungguhnya sebiji kurma jauh lebih baik bagimu daripada menggemukkan ulat-ulat di dalam tanah. Untuk ulat-ulatkah engkau penuhkan perutmu?

“Dan sesudah perutmu penuh semakin banyak keperluan yang engkau harus penuhi, engkau menghendaki dapur untuk memasak dan jamban untuk buang kotoran. Sekalipun engkau berusaha untuk membersihkan rohanimu, tapi yang jelas, engkau tetap juga bersungguh-sungguh menyuburkan dan menggemukkan tubuhmu.”

Sambil mendengar ucapan Rabi’ah Al-‘Adawiyah, terbayang pula kijang yang lari karena takut kepadanya. Berlinanglah air mata Hasan, air mata bening mengalir cukup deras membasahi wajahnya, bak embun di atas dedaunan hijau. Air mata itu juga membasahi janggutnya yang terurai.

Ketika itu ia mendengar bisikan halus yang datang dari sanubarinya, yang menjadi dorongan baginya untuk mengurangi makan. Akhirnya hasan menerapkan ajaran tersebut. Ia mampu mengontrol kadar makanan yang masuk ke dalam perutnya. Tak lagi memakan lebih dari sebiji kurma setiap hari. Jarang memakan daging dan rnakanan yang enak-enak. []

Sumber: 165 Nafas-nafas Cinta, Kidung Cinta Rabiah Al Adawiyah/Penulis:Rudyiyanto/Penerbit: Srigunting,2010

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline