Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Angkuhnya Kaum Ad yang Tidak Mau Mengakui Nabi dari Golongan Manusia

0

Nabi Hud diutus oleh Allah untuk menyampaikan dakwah kepada kaum Ad. Nabi Hud dan kaum Ad sama-sama merupakan keturunan Arab. Kaum Ad tinggal di daerah berpasir yang dikenal dengan sebutan Ahqaf.

Ahqaf terletak di wilayah Yaman, antara Oman dan Hadramaut. Di sana, Kaum Ad mendirikan kemah-kemah dengan tonggak yang besar dan tinggal di dalamnya. Kaum Ad memiliki bentuk tubuh yang besar dan kuat. Mereka hidup dengan cara berkebun dan beternak. Kebun-kebun kaum Ad sangat subur karena terdapat banyak mata air di daerah yang mereka tinggali. Kaum Ad dapat hidup sejahtera dari ternak dan hasil panen kebun mereka yang melimpah. Sayangnya, kaum Ad tidak beriman kepada Allah. Mereka menjadikan berhala sebagai Tuhan.

Berhala-berhala yang mereka sembah berjumlah tiga, yaitu Sadd, Samud, dan Hera. Selain itu, kaum Ad juga tidak percaya adanya kehidupan akhirat. Mereka meyakini bahwa kehidupan hanyalah sebatas di dunia. “Mana mungkin orang yang sudah mati di dunia akan dihidupkan kembali di akhirat,” ujar mereka.

Nabi Hud berkata kepada kaumAd bahwa ia adalah nabi dan rasul yang diutus oleh Allah. la menyeru kaumnya untuk meninggalkan berhala dan menyembah Allah. Namun, bukannya mengikuti seruan Nabi Hud, kaum Ad malah memperolok dan menertawakannya.

“Hahaha Rasul, kok, seorang manusia. Mana mungkin! Ada-ada saja. Kau pasti sudah gila,” ejek mereka.

Kaum Ad menolak meninggalkan berhala sebagai sembahan. Mereka beralasan bahwa menyembah berhala adalah tradisi yang diturunkan oleh para pendahulu mereka. “Sudahlah, Hud! Tidak usah menasihati kami. Apa pun yang kau katakan, kami tidak akan meninggalkan agama nenek moyang kami,” tegas mereka.

Nabi Hud terus mendakwahi kaum Ad. la juga mengingatkan kepada mereka akan azab Allah yang telah menimpa para kaum terdahulu. Namun, hanya sedikit dari kaum Ad yang mau mendengarkan. Sebagian besar dari mereka tetap mendustakan. Mereka bahkan dengan sombongnya menantang Nabi Hud agar meminta Allah menurunkan azab bagi mereka. “Hei, Hud! Jika kau memang seorang Rasul, mohonlah kepada Tuhanmu untuk menimpakan azab kepada kami. Sungguh, kami tidak akan tertimpa azab karena itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang terdahulu,” kata mereka.

Karena sudah kehabisan cara untuk menghadapi kaumnya, Nabi Hud hanya bisa mengadu kepada Allah seraya mengajak kaumnya yang beriman untuk pergi meninggalkan perkampungan kaum Ad. Rupanya, pengaduan Nabi Hud itu dijawab oleh Allah. “Tidak lama lagi mereka pasti akan menyesal,” demikian firman Allah.

Setelah kepergian Nabi Hud, perkampungan kaum Ad mulai dilanda kekeringan. Hujan tak kunjung turun. Mata air habis, sumur kering, hewan-hewan ternak binasa, kebun-kebun pun layu dan mati. Kaum Ad kemudian melakukan ritual untuk meminta hujan. Hingga tak lama kemudian, tampak gumpalan awan hitam menutupi langit di atas perkampungan kaum Ad. Kaum Ad bersorak gembira. “Lihat! Awan-awan hitam itu sebentar lagi akan menurunkan hujan untuk kita ” seru mereka.

Mereka tidak sadar bahwa itu adalah pertanda azab yang akan Allah timpakan kepada mereka. Mereka baru menyadarinya ketika awan itu menurunkan angin kencang yang bergulung-gulung disertai gemuruh petir dan kilat yang menyambar-nyambar. Angin kencang yang menyerupai puting beliung itu menerbangkan kaum Ad beserta semua yang dilewatinya, seperti rumah, pohon, hewan-hewan ternak, batu, dan sebagainya.

Begitulah nasib kaum Ad yang sombong dan selalu mengingkari kebenaran. Mereka akhirnya binasa akibat azab yang diturunkan oleh Allah. []

Sumber: Kisah Teladan 25 Nabi & Rasul/ Penulis: Izzah Annisa/ Penerbit: Mizan, 2017

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline