Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Andaikata Dunia Ini Tidak Memperlihatkan Keajaiban

0 4

Marwan Al-Himar adalah khalifah terakhir Bani Umayyah. Dia dikenal dengan sebutan Abu Abdul Malik. Dia adalah anak Muhammad bin Marwan bin Al-Hakam. Dia diberi gelar Al-Ja’di sebagai penisbatan kepada orang yang mengajari tata krama yang bernama Al-Ja’ad bin Dirham. Sedangkan Al-Himar (Keledai) karena dia sangat sabar dalam menghadapi musuh-musuhnya yang memberontak.

Dia mengambil tindakan yang sangat hati-hati dan sabar atas semua beban perang yang ditanggungnya. Sedangkan dalam peribahasa disebutkan Fulan itu lebih sabar daripada keledai di dalam peperangan. Karena kesabarannya dia disebut oleh kawan dan lawan politiknya sebagai Al-Himar. Atau karena orang-orang Arab dalam setiap seratus tahun menyebutnya sebagai Himar. Dan tatkala pemerintahan Bani Umayyah mendekati umurnya yang keseratus dan dipimpin oleh Marwan, maka mereka memberi gelar Marwan dengan Himar.

Marwan dilahirkan di Jazirah (wilayah Hijaz). Ayahnya adalah orang yang mendapat pekerjaan untuk memegang kendali kekuasaan di wilayah tersebut pada tahun 72 H. Sedangkan ibunya adalah mantan budak yang dibebaskan berkat perkawinannya dengan ayahnya. Dia dikenal sebagai ahli kuda, pemberani, pejalan kaki yang kuat, licik dan serampangan. Tatkala ia mendengar bahwa Al-Walid terbunuh —saat itu ia berada di Armenia—dia mengajak orang-orang untuk membaiat orang yang disukai oleh kaum muslimin dan kaum muslimin membaiat dia sebagai khalifah.

Kala kabar kematian Yazid sampai di telinganya, dia menginfakkan uang dalam jumlah yang sangat besar dan dia mengadakan pemberontakan pada Ibrahim hingga akhirnya Ibrahim takluk dan Marwan dibaiat sebagai khalifah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun 129 H. Akhirnya kekuasaan berhasil dia ambil.

Hal yang pertama kali dia lakukan adalah membongkar kubu ran Yazid. Dia keluarkan jasad Yazid dari kuburnya dan dia salib. Ini dia lakukan karena Yazid telah membunuh Al-Walid. Namun kekuasaannya tidak stabil akibat banyaknya pemberontakan dari berbagai arah.

Dia berkuasa hingga tahun 132 H. Pemberontakan dilakukan oleh Bani Abbas yang dipimpin oleh Abdullah bin Ali yang tak lain adalah paman As-Saffah. Melihat munculnya pemberontakan ini Marwan segera berangkat untuk memadamkan pemeberontakan tadi. Keduapasukan bertemu di dekat Maushil. Marwan kalah dalam pertempuran sengit tersebut lalu dia kembali ke Syam.

Namun Abdullah mengejarnya hingga membuat Marwan melarikan diri ke Mesir. Namun pengejaran terus dilakukan oleh saudara Abdullah yang bernama Shaleh. Keduanya bertemu di desa Bushir. Akhirnya Marwan berhasil dibunuh pada bulan Dzul Hijjah tahun yang 132 H.

Ash-Shuli meriwayatkan dari Muhammad bin Shalih dia berkata, “Tatkala Marwan Al-Himar terbunuh, kepalanya dipotong dan dibawa kepada Abdullah bin Ali. Dia kemudian melihat potongan kepala tersebut dan dia lalai. Tiba-tiba datang seekor kucing dan menggigit lidah Marwan dari mulutnya lalu dia telan ke dalam perutnya.”

Abdullah bin Ali berkata, “ kepada kita semua kecuali adanya lidah Marwan di dalam mulut kucing, maka itu sudah kita anggap sebagai keajaiban yang sangat besar.” []

Sumber: Tarikh Khulafa: Sejarah Para Khalifah/ Penulis: Imam As-Suyuthi/ Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, 2000

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline