Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Amr bin Jamuh dan Berhala Manat

0 1

Anak-anak Amr bin Jamuh mengerti betapa ayah mereka begitu cinta kepada berhalanya yang bernama Manat. Dan kecintaan tersebut semakin bertambah dengan berjalannya waktu. Akan tetapi mereka menyadari bahwa ayah mereka mulai ragu akan kehebatan Manat dalam hatinya. Dan mereka juga sadar bahwa mereka harus mengubah pengaruh Manat ini dari hati ayahnya, dan itulah cara satu-satunya menuju iman.

Pada suatu malam, anak-anak Amr bin Jamuh bersama Muadz bin Jabal mendatangi Manat. Mereka membawa Manat dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang di Bani Salamah tempat mereka membuang sampah. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing tanpa ada seorang pun yang mengetahui ulah mereka. Begitu pagi datang menjelang, Amr pergi dengan langkah pasti untuk memberikan salam kepada berhalanya, namun sayang kali ini ia tidak menjumpainya. Ia langsung berseru: “Celaka kalian, siapa yang telah berani berlaku nista kepada tuhan kita malam tadi?!…”

Tidak ada seorang pun yang mengaku.

Serta-merta ia mencari berhal tadi di dalam dan di luar rumah. Dia terlihat begitu marah dan emosi. Ia mengancam dan mengecam terusmenerus hingga ia menemukan Manat dengan kepala tersembul di lubang.

Maka Amr langsung mencucinya hingga bersih dan memberikan wangiwangiang kepadanya. Lalu ia mengembalikan Manat ke tempatnya. Ia berkata kepada Manat: “Demi Allah, kalau saja aku tahu siapa yang melakukan ini terhadapmu, pasti akan aku siksa dia!”

Pada malam kedua, para pemuda tadi mendatangi Manat dan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan padanya kemarin. Begitu masuk pagi, Amr yang tua mencarinya lagi dan ia menemukan Manat sedang berada di lubang dengan berlumuran kotoran. Lalu ia mengambilnya, mencucinya dan memakaikan padanya wangi-wangian. Dan ia menempatkan Manat kembali kepada tempatnya.

Para pemuda tadi terus saja melakukan hal yang sama setiap hari. Saat Amr sudah merasa jengkel, ia datang menghadap Manat sebelum beranjak tidur dengan membawa pedangnya dan pedang tersebut ia gantungkan ke kepala Manat. Lalu ia berujar: “Ya Manat, Demi Allah aku tidak tahu siapa yang melakukan hal ini sebagaimana kau melihatnya. Jika kau mampu, tolaklah kejahatan dari dirimu ini. Bawalah pedang ini bersamamu!” Setelah merasa nyaman. Amr pun berangkat tidur.

Begitu para pemuda tadi merasa yakin bahwa ayah mereka yang tua, Amr sudah terlelap tidur, maka serta merta mereka langsung berhambur menuju berhala tadi. Mereka melepas pedang dari leher berhala dan mereka membawa keluar berhala tersebut. Mereka mengikatkan Manat dengan tambang kepada seekor anjing yang telah mati. Mereka lalu melemparkan keduanya ke dalam sumur Bani Salamah dimana mengalir dan berkumpul di dalamnya kotoran dan sampah.

Begitu Amr bin Jamuh yang tua terjaga dan ia tidak mendapati berhalanya, ia pun pergi untuk mencarinya. Ia mendapati bahwa Manat sedang tertelungkup wajahnya dalam sumur dan terikat dengan seekor anjing yang telah mati. Pedang yang ada bersama Manat telah di ambil. Kali ini, Amr tidak mengeluarkan Manat dari lubang, ia membiarkan Manat di tempatnya. Lalu ia berujar:

Demi Allah, bila engkau adalah seorang tuhan. Tidak mungkin engkau terikat bersama anjing di tengah sumur.

Tidak lama kemudian ia masuk ke dalam agama Allah.

Amr bin Jamuh merasakan manisnya iman yang membuat ia menyesal
atas setiap saat yang dilaluinya dalam kemusyrikan. Ia masuk ke dalam agama yang baru dengan jiwa dan raganya. Ia mendedikasikan jiwa, harta dan anaknya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.[]

Sumber: Kisah Heroik 65 Orang Shahabat Rasulullah SAW/ Penulis: Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya/ Penerbit: Darul Adab al-Islami/ Februari, 2008

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline