Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Allah Memperlihatkan Keadilannya kepada Nabi Musa

 

Dikisahkan, Nabi Musa pernah bermunajat kepada tuhannya di atas bukit Thur. Dalam munajat beliau berkata, “Tuhanku, perlihatkan kepadaku keadilan-Mu.“

Allah menjawab, “Engkau laki-laki yang tangkas, cekatan dan pemberani, tetapi tidak akan mampu bersabar untuk memahami keadilan-Ku .”

“Insya Allah Saya mampu bersabar dengan taufik-Mu,” jawab Nabi Musa.

Kemudian Allah berfirman, ”Pergilah menuju mata air di suatu tempat, lalu bersembunyilah di baliknya dan perhatikan apa yang akan terjadi, disitu kamu akan melihat apa yang kau inginkan.”

Musa berjalan dan mendaki anak bukit di balik mata air itu, lalu duduk bersembunyi. Tidak berapa lama datang seorang penunggang kuda di mata air itu, lalu ia turun dari kudanya dan berwudhu serta minum air dari mata air itu. Ia membuka buntalannya yang di dalamnya terdapat kantong yang berisi uang 1000 dinar, lalu meletakannya di sampingnya lalu shalat. Kemudian laki–laki itu kembali menaiki kuda dan ia lupa kantongnya.

Tidak lama kemudian, datang seorang anak kecil, lalu meminum air dari mata air itu dan pergi sambil mengambil kantong uang yang ditemukan di tempat itu. Setelah anak kecil itu pergi, datanglah seorang laki-laki tua buta. Ia minum dari mata air itu, berwuduk dan berhenti sejenak untuk sholat, setelah sholat, ia duduk santai melepas lelah.

Bersama dengan itu, laki-laki penunggang kuda yang datang pertama tadi teringat dengan kantong uangnya. Ia kembali dari perjalanannya dan segera menuju sumber mata air itu, namun ia tidak menemukan kantong uangnya. Ia hanya melihat laki laki buta itu yang sedang duduk beristirahat.

Ia mencurigai laki-laki tua tersebut, “Saya kehilangan kantong yang berisi 1000 dinar di tempat ini. Tidak ada orang yang datang ke tempat ini selain kamu,” tuduh penunggang kuda itu.

”Kamu tau saya laki-laki buta, maka bagaimana mungkin saya bisa melihat dan mengambil kantongmu?” jawab laki-laki yang buta itu.

Penunggang kuda itu marah atas ucapan laki-laki tua tersebut. Ia mencabut pedang dan menghantamkannya pada laki-laki malang itu sampai tewas. Ia memeriksa mayat laki-laki tua itu dan kantong yang dicarinya tidak ditemukan ia pun pergi dan meninggalkan mayat pria malang itu dengan wajah kesal.

Menyaksikan peristiwa tragis tersebut Nabi Musa merasa jengkel dan hilang kesabarannya. Ia berkata, “Tuhanku dan junjunganku, kesabaranku benar-benar habis dan Engkau benar-benar Dzat yang Maha Adil, maka berilah saya pengetahuan dan penjelasan bagaimana semua ini bisa terjadi?”

Allah memerintahkan Jibril untuk memberikan penjelasan. Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Musa, ”Hai Musa, Allah SWT berfirman: Aku mengetahui semua rahasia dan lebih mengetahui dari pada yang kamu ketahui. Adapun anak kecil yang mengambil kantong uang tersebut, sebenarnya ia hanya mengambil hak miliknya sendiri. Karena orang tua anak kecil tersebut adalah orang upahan laki-laki penunggang kuda itu. Upah yang harus diterimanya terkumpul dalam jumlah uang yang terdapat di dalam kantong yang dibawa laki-laki penunggang kuda itu dan upah tersebut belum terbayar. Anak itu hanya mengambil haknya. Adapun laki-laki tua yang buta itu adalah orang yang telah membunuh ayah dari penunggang kuda tersebut ketika ia belum buta. Allah telah mengambil hukum Qishash dan menyampaikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Keadilan kami (Allah) sangat lembut.”

Setelah Nabi Musa mengetahui hal tersebut, ia mulai memahaminya, benarlah jika Allah hakim yang seadil-adilnya. Maka, Nabi Musa pun mohon ampun kepada-Nya. []

 

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline