Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Allah Memberi Karunia kepada Hamba-Nya dengan Satu Pilihan

0

Madinah, Jumat, 9 Rabi` Al-Awwal 11 H/5 Juni 632 M. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hari itu, tiga hari menjelang wafat dan pada waktu subuh, yang sebelumnya mengalami demam tinggi, dalam keadaan tenang.

Panas demam yang menimpa tubuh beliau sudah mulai turun. Sehingga, seolah karena obat yang diberikan keluarganya telah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu beliau dapat pula keluar rumah pergi ke masjid dengan berikat kepala dan bertopang pada Ali bin Abu Thalib, menantu dan saudara sepupu tercinta beliau, dan Al-Fadhl bin Abbas, sepupu beliau.

BACA JUGA: Apakah Orang Mukmin di Antara Keluarga Fir‘aun Lebih Baik daripada Abu Bakar?

Abu Bakar Al-Shiddiq kala itu sedang mengimami shalat bersama orang-orang. Begitu kaum Muslim yang sedang melaksanakan shalat itu mengetahui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam datang, karena rasa gembira yang luar biasa, hampir-hampir shalat mereka terpengaruh.

Tetapi, beliau memberi isyarat agar mereka meneruskan shalatnya. Bukan main gembira beliau melihat semua itu. Abu Bakar Al-Shiddiq merasakan apa yang telah mereka lakukan itu, dan yakinlah dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kecuali untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dia pun beranjak dari tempat shalatnya untuk memberikan tempat kepada beliau.

Beliau mendorongnya dari belakang agar dia tetap menjadi imam. Beliau sendiri kemudian duduk di samping Abu Bakar dan shalat sambil duduk di sebelah kanannya.

Usai shalat, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menghadap kepada khalayak ramai, dan kemudian berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar sampai keluar masjid, “Allah memberi karunia kepada hamba-Nya satu pilihan, antara dunia dan akhirat. Dia memilih yang terakhir.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lantas diam dan orang-orang juga diam tidak bergerak. Tetapi, Abu Bakar Al-Shiddiq segera mengerti, yang dimaksud beliau dengan kata-kata terakhir itu adalah dirinya.

Related Posts

Siapa yang Tidak Beriman Itu?

Dengan perasaannya yang sangat lembut dan besarnya persahabatan Abu Bakar dengan beliau, dia tak dapat menahan air mata dan menangis sambil berkata, “Tidak. Malah, engkau akan kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami!”

BACA JUGA: Ketika Kaum Anshar Membicarakan Rasulullah di Hari Pembebasan Kota Mekkah

Khawatir rasa terharu Abu Bakar Al-Shiddiq akan menular kepada yang lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lantas memberi isyarat kepadanya, “Sabarlah, Abu Bakar!”

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi, “Aku peringatkan kepada saudara sekalian, wahai kaum Muslim, agar berbuat baik kepada kaum Anshar. Mereka benar-benar telah melaksanakan tugas dengan baik. Kaum Muslim secara umum akan bertambah jumlahnya, tetapi kaum Anshar akan berku-rang. Dan, jadilah mereka garam dalam makanan. Kesengsaraan telah menimpa bangsa-bangsa sebelum kalian, yang menyembah kuburan para nabi dan orang-orang suci mereka. Aku larang kalian melakukan hal itu. Aku banyak berutang budi kepada Abu Bakar Jika aku memanggil seseorang sebagai kawanku, maka dialah Abu Bakar. Tetapi, persahabatan dan persaudaraan ini dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita di sisi-Nya. Wahai anak putriku tercinta, Fathimah, dan wahai bibiku tercinta, Shafiyyah, kerjakanlah sesuatu untuk akhirat, karena aku tidak dapat membantumu terhadap kehendak Allah.”

Melihat tanda-tanda kesehatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang semakin membaik, bukan main gembiranya kaum Muslim, sampai-sampai Usamah bin Zaid datang menghadap kepada beliau dan minta izin akan membawa pasukan ke Syam, dan Abu Bakar pun datang menghadap dengan mengatakan, “Rasul! Aku lihat engkau kini dengan karunia dan nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah giliran Habibah binti Kharijah. Bolehkah aku mengunjunginya?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun mengizinkan. Abu Bakar pun berangkat ke Sunh—di luar Kota Madinah—tempat tinggal istrinya, Habibah binti Kharijah. Setibanya di Madinah, Abu Bakar kemudian dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, dari Bani Al-Harits dari suku Khazraj.

BACA JUGA: Berada di Tangan Siapa Pemerintahan Islam Ini Setelah Rasulullah Wafat?

Akhirnya, dia menikah dengan Habibah, putri Kharijah. Dan, dari perkawinan ini kemudian lahir Ummu Kultsum, yang ditinggalkan wafat oleh Abu Bakar ketika dia sedang dalam kandungan Habibah. Adapun keluarga Abu Bakar yang lain tidak tinggal bersamanya di rumah Kharijah bin Zaid di Sunh. Ummu Ruman binti Amir dan putrinya, Wisyah, serta keluarga Abu Bakar yang lain tinggal di dalam Kota Madinah, di sebuah rumah berdekatan dengan rumah Abu Ayyub Al-Anshari, tempat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tinggal. []

Sumber: Pesan Indah dari Makkah & Madinah/Karya: Ahmad Rofi’ Usmani/Penerbit: Mizania/2008

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline