Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ali bin Abi Thalib: Kepada Siapa Aku Pernah Berbohong?

0

Saat penduduk Kufah menuduh Ali bin Abi Thalib sebagai pembohong. Syarif ar-Radhi meriwayatkan dari Ali, ia berkata, “Wahai penduduk Irak! Kalian itu seperti wanita hamil yang ketika kehamilannya telah sempurna ia keguguran, suaminya mati, menjanda dalam waktu yang lama, dan pusakanya diwarisi orang yang hubungan kekeluargaannya sangat jauh dengannya.

“Demi Allah, aku tidak mendatangi kalian dengan sukarela, tapi aku datang kepada kalian (tinggal di Irak) dengan terpaksa. Aku sudah mendengar bahwa kalian mengatakan bahwa Ali berbohong. Semoga Allah membinasakan kalian. Kepada siapa aku pernah berbohong?”

Ali juga mengatakan, “Semoga Allah memerangi kalian! Kalian mencemari hatiku dengan nanah, memenuhi dadaku dengan amarah, mencekokiku dengan kesedihan, seteguk demi seteguk, dan kalian merusak pikiranku dengan kedurhakaan dan pengkhianatan.”

Semuanya berawal saat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengeluhkan pendukungnya, yaitu penduduk Kufah.

Ia berkata, “Umat-umat terdahulu takut terhadap kezhaliman para pemimpinnya. Tapi aku, justru takut akan kezhaliman rakyatku. Aku mengajak kalian untuk berjihad, namun tak ada yang menyambut ajakanku.

“Aku berbicara pada kalian, tetapi kalian tak mendengarkan.

“Aku mengajak kalian kepada kebaikan secara rahasia dan terang-terangan, tapi kalian tak menurut.

“Aku menasihati kalian, tapi kalian tak menerima.

“Apakah kalian ada? Hakikatnya kalian tak ada.

“Apakah kalian hamba sahaya? Tapi seolah-olah kalian sebagai majikan.

“Aku bacakan hukum pada kalian, namun kalian lari darinya.

“Aku nasihati kalian dengan nasihat yang bagus, namun kalian lari darinya.

Related Posts

Kokohnya Tekad Umar Mengikuti Jejak Rasulullah

“Aku ajak kalian berjihad menghadapi para pembelot, tapi belum sempat aku mengakhiri perkataanku, kalian sudah bubar kembali ke tempat kalian. Dan kalian manipulasi nasihat yang diberikan.

“Aku meluruskan kalian pada pagi hari. Sore harinya kalian kembali padaku dalam keadaan bengkok bak punggung ular. Yang memberi nasihat telah melemah, tapi yang dinasihati makin mengeras.

“Wahai orang-orang yang hadir di sini tapi pikirannya entah di mana, yang berbeda-beda keinginannya, dan yang menjadi ujian bagi para pemimpinnya. Teman kalian tunduk kepada Allah. Sedangkan kalian mendruhakai-Nya.

“Aku sungguh sangat berharap, demi Allah! Muawiyah akan menukar kalian dariku, seperti menukar dinar dengan dirham, dimana dia mengambil dariku sepuluh orang di antara kalian dan memberiku seorang dari mereka.

“Wahai penduduk Kufah, aku diuji melalui kalian dengan lima masalah:

“(1) Kalian ini tuli tapi punya pendengaran,

“(2) Bisu tapi bisa berbicara,

“(3) Buta tapi punya penglihatan,

“(4) Pengecut ketika menghadapi peperangan; dan

“(5) Tidak ada teman yang dapat dipercaya ketika mendapat ujian.

Celaka kalian! Kalian seperti kawanan unta kehilangan pengembalaannya, jika digiring dari satu sisi dia lari ke sisi yang lain.”

Maka dari sinilah perpecahan mulai terlihat. []

Sumber: Huqbah min at-Tarikh, Inilah Faktanya/ Penulis: al-Khamis, Utsman bin Muhammad / Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2012

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline