Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Al-Qur’an Lebih Baik daripada Hikmah Lukman

Suwaid merupakan sahabat Nabi. Ia tinggal di Yatsrib atau sekarang dikenal dengan Madinah. Suwaid merupakan orang yang terkemuka dari kaumnya, bernasab mulia dan mempunyai kedudukan tinggi. Ia juga seorang penyair yang cerdas sehingga memperoleh gelar Al Kamil (Sang Sempurna) dari penduduk Yatsrib.

Suwaid termasuk sahabat yang memeluk Islam pada masa awal, yakni ketika beliau masih berada di Makkah, tetapi sayangnya ia tidak sempat bergaul dengan Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam dan mengalami masa keemasan Islam di Madinah.

BACA JUGA: Nabi Bacakan Ayat-ayat Al Quran kepada Suwaid bin Shamit

Ketika Suwaid sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah di Makkah (tentunya dengan cara dan tradisi lama, yakni kebiasaan jahiliah), Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam mendatangi dirinya dan mengajaknya memeluk Islam. Sebagai seorang yang cerdas dan memiliki pengetahuan luas, Suwaid justru berkata, “Boleh jadi apa yang ada padamu itu sama dengan yang ada padaku.”

Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Apa yang ada padamu?”

“Hikmah al Luqman.” Kata Suwaid.

“Tunjukkan padaku!!” Kata beliau.

Suwaid mulai melantunkan apa yang dimiliki dan diketahuinya dengan rangkaian syair-syair yang sangat indah dan memikat perhatian. Setelah ia selesai, Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam berkata, “Sungguh suatu kata-kata yang baik, namun yang ada padaku jauh lebih baik dan utama dari kata-katamu itu. Ini adalah Al-Qur’an yang diturunkan Allah kepadaku, petunjuk dan cahaya…”

BACA JUGA: Aku Berlepas Diri dari Bid’ah-bid’ah yang Kalian Buat

Kemudian Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam mulai membacakan beberapa ayat-ayat Al Qur’an kepada Suwaid. Ia tampak sangat terpesona dan khusyu’ mendengar bacaan beliau. Sebagai seorang ahli syair yang cerdas, Suwaid tahu betul bahwa rangkaian kata dan kalimat seperti itu tidak mungkin disusun dan dibuat oleh manusia, sehebat apapun kemampuan dan kecerdasannya. Setelah Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam selesai membacakan Al Qur’an, Suwaid berkata, “Ini adalah kata-kata yang benar-benar bagus.”

Setelah itu Suwaid menjabat tangan Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam dan berba’iat memeluk Islam. Suwaid pulang ke Yatsrib, dan tak lama setelah itu terjadi perang Bu’ats, perang saudara antara Suku Aus dan Khazraj, dan Suwaid terbunuh dalam peperangan tersebut. []

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More