Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Al-Hujuraat Ayat 13 dalam Pemerintahan Umar bin Khattab (Bagian 1)

0

Ketika Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah dengan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu maka berduyun-duyunlah orang-orang yang miskin dan tcrtindas masuk ke dalam agama Islam di samping banyak pula para pembesar, kepala suku, dan raja yang memeluk agama ini.

Di antara kalangan raja dan pembesar suatu negeri yang tertarik dan akhirnya memeluk agama Islam adalah Jablah bin Ayham bin Harits Al-A’raaj bin Syamar Al- Ghossani, raja Ghossaan yang terakhir yang berasal dari keturunan Jafnah.

BACA JUGA: Umar bin Khattab Menjadi Saksi Persahabatan yang Tulus di Bukit Uhud

Menurut suatu riwayat, Raja Jablah bin Ayham Al-Ghossani ini mempunyai postur tubuh yang tinggi dan besar. Konon, ia jika mengendarai kuda, maka kedua kakinya sampai menyentuh tanah. Pada suatu ketika, setelah masuk Islam, ia hendak menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk melaksanakan ibadah haji di kota Makkah.

Lalu ia menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khattab yang kala itu surat kepada Khalifah Umar bin Khattab yang kala itu menjabat sebagai pemimpin kaum muslimin. Raja Jablah menginformasikan, bahwa ia akan datang berkunjung ke Kota Madinah, ibu kota pemerintahan Islam pada waktu itu, untuk bersilaturahmi dengannya dan setelah itu baru melaksanakan ibadah haji. Dengan senang hati Khalifah Umar bin Khaththab menerima maksud kedatangannya tersebut, seraya berjanji akan melayaninya sebagai tamu kehormatan bagi khalifah di Ibu Kota Madinah.

Kemudian Jablah bin Ayham Al-Ghossaani bersiap-siap berangkat ke kota Madinah sambil menyiapkan lima ratus orang yang terdiri dari keluarga kerajaan, kaum kerabat, handai taulan, dan juga para pengawalnya untuk bersama-sama pergi menunaikan ibadah haji di kota Makkah.

Ketika rombongan tersebut mendekati Kota Madinah, Jablah bin Ayham Al-Ghossaani pun mengutus seorang penngawalnya untuk memberitahukan kedatangannya kepada Khalifah Umar bin Khattab. Betapa gembiranya sang khalifah mendengar kedatangan Raja Ghossaan itu.

Lalu, ia memerintahkan para penduduk kota Madinah untuk keluar bersama menyambut kedatangannya seraya mempersiapkan hidangan bagi para tamu terhormat tersebut. Sementara itu, Jablah bin Ayham Al-Ghossaani memerintahkan seratus orang pengawalnya untuk mengenakan pakaian resmi ketentaraan yang terbuat dari sutera. Para pengawal tersebut dengan gagahnya mengendarai kuda yang berhiaskan emas permata dan aneka hiasan lainnya.

Sedangkan Raja Jablah sendiri mengenakan mahkota kerajaan yang bertahtakan intan berlian yang indah dan mahal. Pada saat rombongan kerajaan Al-Ghossaani mulai memasuki gerbang Ibu Kota Madinah, maka keluarlah para penduduk kota tersebut, tua-muda, anak-anak, kaum remaja, penduduk kota tersebut, tua-muda, anak-anak, kaum remaja, kaum bapak, kaum ibu dan lain sebagainya seraya bersorak-sorai bergembira menyambut kedatangan Raja Ghossaan, tamu kehormatan Khalifah Umar bin Khaththab.

Read More

Alasan Umar Memberhentikan Hakim yang Adil

Sementara, itu para janda dan anak gadis setempat sangat takjub dan terheran-heran melihat pakaian resmi kerajaan yang dikenakan Raja Jablah bin Ayham Al-Ghossaani pada saat itu. Semuanya memuji keindahan dan kemewahan pakaian resmi raja tersebut.

Saat sampai di Kota Madinah, Jablah Al-Ghossaani langsung pergi menghadap kepada Khalifah Umar bin Khaththab untuk memberitahukan kedatangannya. Lalu khalifah Umar pun menyambut kedatangannya dengan penuh penghormatan dan ramah tamah seorang khalifah terhadap pembesar negeri lainnya.

“Assalamu’alaikum, ya amirul mukminin, bagaimanakah kabarnya Anda saat ini?” sapa Jablah kepada Khalifah Umar bin Khattab.

“Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wa barakaatuh! ” jawab Khalifah Umar dengan penuh keramahan.

“Alhamdulillah, berkat doa anda sekalian kepada saya, maka sampai saat ini keadaan saya tetap sehat wal afiat.”

BACA JUGA: Kenapa Para Khalifah Turki Utsmani Tak Berhaji?

Kemudian, Umar bin Khattab menjamu tamunya tersebut dengan ramah-tamah serta menghidangkan makanan sebagai pengisi perut setelah perjalanan yang melelahkan bagi Raja Jablah Al-Ghossaani beserta para rombongannya. Lalu, keduanya tampak asyik membicarakan tentang kondisi keamanan daerah serta kesejahteraan rakyat sekitar negeri Syam.

Tak lama kemudian Raja Jablah Al-Ghossaani berkata kepada khalifah Umar, “Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya maksud kedatangan saya ke Kota Makkah nanti adalah untuk melaksanakan ibadah haji tahun ini.” []

Sumber:Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam/Karya: Nasiruddin S.Ag, MM/Penerbit: Republika

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline