Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Aku Menginginkan Hujjah tentang Agama Allah?

0

Al-Muzani atau Ar-Rabi’ mengatakan, “Pada suatu ketika, aku berbincang-bincang dengan Imam Asy-Syafi’i, tepatnya antara waktu dzuhur dan ashar disebuah bangku yang terbuat dari batu dengan satu hidangan. Ketika itu Imam Asy-Syafi’i  duduk bersandar –atau perawi mengatakan, bersandar pada Al-Usthuwanah (sebuah drum).” Atau mengatakan, “Bersandar kepada yang lain.” Tiba-tiba seseorang yang sudah lanjut usia dan berjubah yang terbuat dari wol lengkap dengan surban dan sarungnya yang juga terbuat dari wol dengan menggenggam tongkat ditangannya menemuinya.”

Perawi melanjutkan ceritanya, “Melihat kedatangan lelaki tua tersebut maka Imam Asy-Syafi’i pun berdiri sambil merapikan pakaiannya. Setelah itu ia duduk kembali dengan tegak.”

BACA JUGA: Wallahi Engkau Telah Mengubah Sunnahnya!

Perawi bercerita lebih lanjut, “Lelaki tua itu mengucapkan salam dan kemudian duduk. Imam Asy-Syafi’i memandang lelaki itu dengan penuh hormat. Tiba-tiba lelaki tua itu berkata kepadanya, “Aku ingin bertanya.”

Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Bertanyatalah.”

Lelaki tua itu bertanya lebih lanjut, “Aku menginginkan hujjah tentang agama Allah?”

Asy-Syafi’i menjawab, “Kitab Suci.”

Lelaki itu bertanya lebih jauh, “Kemudian apa?”

“Sunnah Rasulullah,” jawabnya.

Lelaki itu bertanya lebih jauh, “Kemudian apa?”

“Kesepakatan (ijma) ulama,” jawabnya.

Darimana kamu mengatakan, “Kesepakatan ulama?” tanyanya meyakinkan.

Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Dari kitab suci.”

“Manakah dari kitab suci yang kamu maksudkan itu?” tambahnya.

Perawi melanjutkan ceritanya, “Mendengar pertanyaan terakhir ini, maka Imam Asy-Syafi’i berpikir sejenak. Tiba-tiba lelaki tua itu memperingatkan, “Kuberi waktu tiga hari kepadamu untuk menjawabnya. Jika kamu dapat mendatangkan dalil tersebut dari kitab suci tentang kesepakatan ulama tersebut, maka kamu benar. Dan jika tidak, maka bertaubatlah kepada Allah.”

BACA JUGA: Tatkala Mereka Meragukan Kesucian Al-Quran

Mendengar peringatan lelaki lanjut usia itu, raut muka Imam Asy-Syafi’i nampak berubah pucat pasi.

Setelah pertemuan itu, Imam Asy-Syafi’i  pergi mengisolasi diri dan tidak keluar dari tempatnya selama tiga hari.”

Perawi melanjutkan ceritanya, “Pada hari ketiga, ia pun menemui kami kembali tepat pada waktu tersebut maksudnya antara dzuhur dan ashar-. Raut muka, kedua tangan, dan kedua kakinya nampak membengkak karena sakit. Dan ia pun segera duduk.”

Lelaki lanjut usia itu mengingatkan, “Kebutuhanku.”

Imam As-Syafi’i mengatakan, “Ya. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Penyayang. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa:115)

Kita tidak dimasukkan kedalam neraka jahannam karena mengikuti selain orang yang beriman kecuali wajib (maksudnya, wajib mengikuti jalan orang yang beriman. Mendengar jawaban Imam Asy-Syafi’i, maka lelaki lanjut usia itu mengatakan, “Kamu benar.” Lalu ia pun bangkit dan pergi.”

BACA JUGA: Ini yang Terjadi Ketika Para Pemuka Quraisy Mendengar Bacaan Al-Qur’an

Al-Faryabi mengatakan, “Al-Muzani atau Ar-Rabi’ mengatakan, “Asy-Syafi’i mengatakan, “Ketika lelaki lanjut usia itu pergi, maka kuputuskan untuk membaca Al-Quran sebanyak tiga kali dalam waktu sehari semalam hingga aku memahaminya.” []

Sumber :   Golden Stories Kisah-Kisah Indah Dalam Sejarah Islam, Mahmud Musthafa Sa’ad, DR. Nashir Abu Amir Al-Humaidi, Pustaka Al-Kautsar

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline