Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Aku Ingin Tetap Hidup Supaya Bisa Bertobat

Antara Wuhaib bin Al-Ward dan Sufyan Ats-Tsauri ada rasa cinta yang begitu besar. Dia meriwayatkan bahwa pada suatu hari dia pernah berkumpul bersamanya, lalu Sufyan Ats-Tsauri bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Umayyah, apakah engkau mengharapkan kematian?”

Dia menjawab, “Aku ingin tetap hidup supaya bisa bertobat.”

Lalu Wuhaib pun bertanya, “Bagaimana denganmu? Apa yang engkau inginkan?”

Sufyan menjawab, “Demi Rabb ini (maksudnya Ka’bah) sebanyak tiga kali, aku sangat ingin meninggal dunia saat ini.”

Orang-orang ini, Wuhaib dan saudara-saudaranya, mereka hidup pada zaman kezuhudan dan kebahagiaan. Mereka bersikap zuhud terhadap dunia sehingga mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Harta dan anak-anak mereka tidak pernah menvibukkan mereka dari berzikir terhadap Allah.

Di antara kenangannya tentang Umar bin Abdul Aziz adalah perkataannya: Bani Marwan berkumpul di depan rumah Umar bin Abdul Aziz, lalu Abdul Malik bin Umar datang untuk menemui ayahnya, maka mereka berkata kepadanya, “Mintakanlah izin untuk kami, atau sampaikanlah pesan ini kepada Amirul Mukminin.”

Abdul Malik bin Umar berkata, “Apakah itu? Katakanlah.”

Mereka berkata, “Sesungguhnya para khalifah sebelum dia selalu memberikan bagian kepada kami, dan mereka pun mengakui kedudukan kami. Akan tetapi ayahmu telah mengharamkan kami dari apa yang ada di tangannya.”

Lalu Abdul Malik pun menemui ayahnya dan menyampaikan pesan mereka itu kepadanya.

Maka Umar bin Abdul Aziz berkata kepada putranya, “Katakanlah kepada mereka, ‘Sesungguhnya aku takut terhadap azab pada hari Kiamat jika aku bermaksiat kepada Tuhanku’.”

Disebutkan juga bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah melantunkan syair yang indah, di antaranya adalah bait syair berikut ini:

‘Engkau memandangnya sebagai orang yang berpengaruh

Padahal dia sangat membenci hiburan

Dia hanya sibuk dengan periwayatan hadits kepada kaumnya

Ilmu telah membuatnya gelisah dari segala kebodohan

Dan tidaklah seorang ahli ilmu sama dengan orang yang bodoh.

Muka masam dari orang-orang bodoh ketika dia melihat mereka

Karena dia tidak memiliki seorang sahabat pun di antara mereka yang bisa mengajaknya bersenda gurau

Dia teringat akan kehidupan yang akan dijumpainya kelak di akhirat

Maka kehidupan yang akan datang itu telah menyibukkannya dari kehidupan yang ada sekarang.’ []

Sumber: Kisah Para Tabiin/Penulis:Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi /Penerbit:Ummul Qura

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline