Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Akankah Ia Menyembelih Putera Kesayangannya? (Bagian 2 Habis)

0

Menurut sebagian besar orang, dan hanya Allah yang lebih tahu, sewaktu Abdul Muthalib menggali sumur zam-zam bersama Harits, dia mengucapkan sebuah nadzar. Apabila ia dikaruniai sepuluh anak, Abdul Muthalib akan menyembelih (qurban) salah seorang dari mereka untuk Allah di samping Ka’bah.

BACA JUGA: Akankah Ia Menyembelih Putera Kesayangannya? (Bagian 1)

“Demi Allah! Jangan sekali-kali kau lakukan itu!” cegah orang-orang Quraisy, mencoba mencegah.

“Bila engkau melaksanakannya juga, orang-orang akan mengikuti perbuatanmu, membawa anaknya untuk disembelih. Mengapa orang mengikuti perbuatanmu, membawa anaknya untuk disembelih. Mengapa orang-orang harus melakukan seperti ini?”

Di tengah hiruk-pikuk itu. saudara-saudara dari ibu Abdullah pun membujuk, “Bila Abdullah dapat kami tebus dengan harta kami, kami akan menebusnya!”

“Jangan engkau menyembelihnya,” tambah yang lain.

“Bawa saja pada seorang wanita peramal dan tanyakan kepadanya. Bila dia memerintahkan harus menyembelihnya. laksanakan! Bila dia menyarankan suatu jalan ke luar, terimalah!” sambungnya.

Mendengar protes kaumnya, Abdul Muthalib pun mengurungkan niatnya. Dia pun pergi ke tempat wanita peramal bersama kerumunan tadi. Setelah Abdul Muthalib menceritakan persoalannya, wanita peramal itu pun bertanya, apa yang hendak dia perbuat dan bagaimana tentang nazarnya.

“Berapa diyat yang biasa berlaku di tempat kalian?”

BACA JUGA: Korban yang Pertama Kali Dibayar Diyatnya oleh Rasulullah

“Sepuluh ekor unta.” kata mereka.

Abdul Muthalib beserta anak-anaknya dan semua orang yang mengikutinya segera pulang ke Makkah. Mereka langsung menemui Sadin Quraisy, penjaga patung Hubal untuk mengundi antara Abdullah dan unta.

Abdul Muthalib berdiri di dekat patung Hubal, mohon kepada Allah Swt untuk menyelamatkan anaknya. Abdullah dihadapkan beserta sepuluh ekor unta. Lalu, penjaga Hubal mengundi dengan kidah dan undian jatuh kepada Abdullah. Mereka menambah sepuluh ekor unta lagi.

Sementara itu, Abdul Muthalib tidak berhenti berdoa. Kini, jumlah unta menjadi dua puluh ekor.

Ketika diundi lagi, undian jatuh lagi pada Abdullah. Ditambah sepuluh ekor lagi sehingga menjadi tiga puluh ekor dan Abdul Muthalib tidak henti-hentinya berdoa kepada Allah Swt. Tapi, ketika diundi lagi, ke luar pula nama Abdullah Undian dengan kidah ini terus diulang-ulang, tetapi selalu jatuh pada Abdullah.

Setiap undian jatuh pada Abdullah, jumlah unta pun ditambah sepuluh ekor lagi hingga berlangsung sepuluh kali dan jumlah unta mencapai seratus ekor.

Selama itu. Abdul Muthalib tetap berdiri sambil berdoa. Ketika undian yang kesepuluh jatuh pada unta, meledaklah sorak-sorai mereka.

Orang-orang berteriak gembira. “Telah sampai kerelaan Tuhanmu, hai Abdul Muthalib!” teriak mereka.

“lidak! Demi Allah,” kata Abdul Muthalib, “hingga aku undi lagi tiga kali!”

Lalu, diundi seratus ekor unta itu dengan Abdullah, sementara Abdul Muthalib tetap berdiri berdoa.

Ternyata, undian jatuh pada unta. Diulang untuk kedua kalinya, sementara Abdul Muthalib tetap berdiri berdoa. Undian jatuh lagi pada unta. Undian pun diulang untuk yang ketiga kalinya. Kali ini pun undian jatuh pada keseratus ekor unta.

BACA JUGA: Hai Unta! Milik Siapakah Engkau Ini Sebenarnya?

Pada saat itulah, Abdul Muthalib baru merasa lega karena Allah Swt benar-benar telah rela dengan seratus ekor unta sebagai tebusan bagi Abdullah. Hari itu juga, unta-unta tersebut segera disembelih dan dibiarkan diambil oleh siapa pun atau dimakan oleh burung-burung dan binatang-binatang Sahara tanpa ada yang melarang dan mengganggunya. []

Sumber: Sirah Nabawiyah perjalanan lengkap Kehidupan Rasulullah/ Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani/ Akbar Media

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More