Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Akankah Ia Menyembelih Putera Kesayangannya? (Bagian 1)

Menurut sebagian besar orang, dan hanya Allah yang lebih tahu, sewaktu Abdul Muthalib menggali sumur zam-zam bersama Harits, dia mengucapkan sebuah nadzar. Apabila ia dikaruniai sepuluh anak, Abdul Muthalib akan menyembelih (qurban) salah seorang dari mereka untuk Allah di samping Ka’bah.

BACA JUGA: Abu Dzar, Mendapatkan Keberkahan Air Zamzam (Bagian 1)

Ketika anaknya sudah berjumlah sepuluh, dan ia mengetahui bahwa mereka akan mencegah dan menghalanginya. Maka iapun mengumpulkan anak-anaknya untuk menjelaskan nazarnya serta mengajak mereka menetapi nazar untuk Allah itu.

Suatu hari, Abdul Muthalib memanggil semua anaknya. Anaknya yang sulung bemama Harits, sedangkan yang bungsu, Abdullah, anak yang paling disayang dan paling melekat di hatinya.

Setelah memandangi mereka sejenak, Abdul Muthalib berkata, “Anak-anakku, aku telah mengucapkan nazar. Bila Allah memberiku sepuluh anak lelaki, satu di antaranya akan kusembelih untuk kupersembahkan kepada tuhan. Kini, kalian telah genap sepuluh, maka aku berniat menepati janji dan nazarku.”

“Tepatilah nazarmu, Ayah!” jawab anak-anak itu serentak.

Untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan disembelih, Abdul Muthalib menetapkan caranya. “Setiap orang hendaknya mengambil alat undi dan menuliskan namanya sendiri di sana, kemudian bawa kemari,” perintahnya.

BACA JUGA: Mereka Menggambarkan Nabi Ibrahim Mengundi dengan Undian

Pada masa itu, orang Arab Jahiliah mempunyai kebiasaan mengundi dengan kidah bila hendak mengerjakan sesuatu. Kidah ialah kayu dari pohon Baqs, yang digosok dan dihaluskan. Biasa digunakan sebagai alat pengundi.

Read More

Akankah Ia Menyembelih Putera Kesayangannya? (Bagian 2 Habis)

Setelah anak-anaknya menuliskan namanya masing-masing pada kidah (alat undi), Abdul Muthalib segera pergi ke Ka’bah dengan membawa kidah-kidah tersebut. Banyak orang yang mengikuti di belakangnya sambil membicarakan nazar itu dan bertanya apa yang akan diperbuat oleh Abdul Muthalib.

Setiba di Ka’bah, Abdul Muthalib menemui penjaga patung Hubal dan menyerahkan kidah-kidah itu. Si Sadin (penjaga Hubal) membungkus tangannya dengan kain kemudian dihamparkan kain putih di depannya dan kidah tadi diletakkan di wadahnya.

Lalu, dia mengambil satu kidah dan keluarlah undi Abdullah. Suasana mendadak menjadi sangat hening. Semua orang mengangkat kepala dengan mata terbelalak karena terkejut.

“Mungkinkah Abdul Muthalib akan menyembelih Abdullah, anak yang paling disayanginya itu?” tanya mereka dalam hati.

Namun, niat Abdul Muthalib tidak surut. Dia segera bangkit dan menggandeng tangan Abdullah. Dibawanya Abdullah ke Isaf dan Nailah, nama dua patung tempat orang-orang Arab melakukan penyembelihan dengan membawa parang tajam di tangannya.

Abdullah berbaring tenang. Abdul Muthalib pun telah mengangkat pisau algojonya untuk menetak leher Abdullah, putra kesayangannya.

BACA JUGA: Ya Rasulullah, Apakah Arti Kurban Ini?

Tapi dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba orang-orang Quraisy datang menyerbu dan berteriak, “Apa yang hendak engkau perbuat itu. wahai Abdul Muthalib?”

“Aku akan menyembelihnya,” kata Abdul Muthalib.

Sumber: Sirah Nabawiyah perjalanan lengkap Kehidupan Rasulullah/ Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani/ Akbar Media

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More