Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Adakah Kenikmatan yang Melebihi Memandang wajah-Nya?

0

Shalat, bagi Rabi’ah Al-Adawiyah, merupakan sesuatu keniscayaan yang tak boleh ditinggalkan. Shalat itulah yang bisa menentramkan hati dan jiwanya. Ia menjalani shalatnya secara istiqamah dan khusyuk.

Pada suatu hari, ketika ia berada di tempat ibadahnya, tiba-tiba pelayannya berseru dengan keras, “Wahai Ibu, keluarlah sini dan saksikanlah apa yang telah dilakukan oleh Sang Pencipta.”

BACA JUGA: 15 Petaka bagi Orang yang Mempermainkan Shalatnya

Barangkali, si pelayan tadi sedang melihat sebuah pemandangan alam yang sangat menarik di luar. Ia ingin agar tuannya bisa menyaksikan pemandangan alam itu, dan ia pun segera memanggilnya.

Namun sayang, ajakan si pelayan ternyata sia-sia.

“Lebih baik engkaulah yang masuk kemari,”

Rabi’ah menjawab dari dalam ibadahnya. “Saksikanlah Sang Pencipta itu sendiri. Aku sedemikian asyik menatap Sang Pencipta, sehingga apakah peduliku lagi terhadap ciptaan-ciptaan-Nya.” (Fariduddin Al-Attar, Warisan Awliya, 1983).

UngkapanRabi’ah di atasbenar-benarmengisyaratkanbahwa ia tidaklagidisibukkanmengurusisegalasesuatu yang berhubungandenganmakhluk-Nya (ciptaan-ciptaan-Nya), sebab ia sendirisedarigasyikberhadapan dan memandangwajah-Nya.

BACA JUGA: Rabi’ah al-Adawiyah, Bayi berselimut Darah

Dan, adakah kenikmatan yang melebihi memandang wajah-Nya?

Bukankah kenikmatan yang paling tinggi di surga kelak yakni mendapatkan “bonus” memandang wajah-Nya?

Wajah mereka (para ahli surga) pun menjadi berseri-seri karenanya. Subhanallah. []

Sumber: Jika Surga Neraka (tak Pernah ) Ada/Karya: Wawan Susetya/Penerbit: Republika

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More