Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ada Dua Ayat Al-Quran yang Tidak Kuketahui Tawilnya

0

Seorang sahabat datang menemui Abu Abdillah (Imam Ja’far al-Shadiq) dan berkata, “Ada dua ayat al-Quran yang tidak kuketahui tawilnya.”

“Apakah kedua ayat itu?” tanya Imam.

BACA JUGA: Celakalah bagi Orang yang Membaca Ayat-ayat Ini

Dia berkata, “Firman Allah: Berdoalah pada-Ku niscaya Aku memperkenankan bagjmu, lalu saya berdoa tapi tak melihat pengabulannya.”

Imam Ja’far al-Shadiq menjawab, “Pernahkah kamu menyaksikan bahwa Allah telah mengingkari janji-Nya?”

“Tidak,” jawabnya.

“Lalu mengapa?” tanya Imam.

Dia menjawab, “Saya tak tahu.”

Imam berkata, “Kemudian apa ayat yang kedua?”

Related Posts

Si Pemecah Roti Membuat Perkembangan di Kota Makkah

Dia berkata, “Firman Allah: dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. (Saba’: 39) Kemudian saya menafkahkan harta saya, tetapi tidak menyaksikan gantinya.”

“Apakah kamu telah melihat Allah telah mengingkari janji-Nya?” tanya Imam.

Dia menjawab, “Tidak.”

“Lalu mengapa?” tanya Imam.

Dia menjawab, “Saya tidak tahu.”

Imam berkata, “Insya Allah saya akan jelaskan padamu; seandainya kalian menaati apa yang telah Allah perintahkan kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya (maka akan dikabulkan). Namun kalian telah melanggar dan berbuat maksiat kepada-Nya sehingga Dia tidak memperkenankan bagi kalian. Adapun perkataanmu bahwa saya telah menafkahkan harta tapi tak melihat gantinya, sungguh seandainya kalian memperoleh harta dari apa yang dihalalkan-Nya kemudian kalian keluarkan di jalan yang benar, maka tidak dinafkahkan satu dirham pun kecuali Allah (pasti) menggantinya. Dan seandainya kalian memohon kepada-Nya sesuai susunan doa, maka Dia (pasti) mengabulkan permintaan kalian meskipun kalian orang-orang yang bermaksiat.”

Saya bertanya, “Bagaimana susunan doa itu?”

BACA JUGA: Khalifah Al-Makmun dan Mukjizat Nabi Palsu

Imam berkata, “Jika kamu telah menunaikan (shalat) wajib, lalu memuliakan Allah, mengagungkan dan memuji-Nya dengan segala kemampuan, lalu bershalawat atas Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan sepenuh hati, bersaksi padanya bahwa beliau saw telah menyampaikan risalah, lalu mengingat nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia karuniakan padamu serta memuji dan bersyukur pada-Nya atas semua itu. Kemudian kamu menyebutkan dosa-dosamu satu-persatu yang mampu kamu ingat, dan menyebutkan secara umum dosa-dosa yang tersembunyi ataupun yang tidak kamu ingat. Lalu kamu bertaubat pada Allah dari semua maksiat dan dosamu serta berniat tidak mengulanginya lagi. Dan kamu memohon ampunan kepada Allah dari dosa-dosa dengan penuh rasa sesal, niat yang sebenarnya, serta diiringi harap dan cemas. Kemudian kalimat doamu kepada-Nya adalah, `Ya Allah, aku memohon maaf pada-Mu atas dosa-dosaku, memohon ampunan-Mu dan bertaubat pada-Mu. Bantulah aku untuk taat kepada-Mu, berilah aku bimbingan-Mu untuk (dapat mengerjakan) apa yang telah Engkau wajibkan atasku dari segala apa yang Engkau ridhai. Aku tidak melihat seseorang telah mencapai taat kepada-Mu melainkan dengan nikmat-Mu kepadanya sebelum dia taat kepada-Mu. Maka berilah aku sebuah nikmat yang dengannya aku dapat menggapai keridhaan-Mu dan surga: Setelah itu, mohonlah keperluanmu. Sungguh aku berharap -Insya Allah- Dia tidak akan mengecewakanmu.” []

Sumber: Hakikat Munajat/Karya: Prof. Muhammad Mahdi al-Ashifi/Penerbit: Cahaya/2004

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline