Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Abu Hanifah: Tetaplah di Jalan yang Engkau Lalui

Suatu hari Imam Abu Hanifah pulang mengunjungi salah seorang sahabatnya yang sakit. Saat di perjalanan, ia melihat seorang laki-laki yang berusaha bersembunyi dan mencoba menghindar mencari jalan lain.

“Fulan, tetaplah di jalan yang engkau lalui!” seru Imam Abu Hanifah.

BACA JUGA: Ini Jawaban Abu Hanifah Ketika Ditanya Tentang Allah

Saat lelaki itu tahu bahwa Imam Abu Hanifah telah melihat dia, dia pun terlihat salah tingkah dan berhenti. Lalu Imam Abu Hanifah menghampiri dia.

“Mengapa engkau membatalkan untuk berjalan melalui jalan yang engkau telah lalui?” tanya Imam Abu Hanifah.

“Abu Hanifah, saya masih memiliki hutang kepada Anda 10 ribu dirham (sekitar Rp 700.000.000,-) dan dalam waktu yang cukup lama hingga saat ini aku belum melunasi utang itu. Karena itu saat saya melihat Anda, saya malu kepada Anda,” jawab lelaki tersebut.

“Mahasuci Allah. Keadaanmu sampai seperti ini. Jika engkau melihat aku, engkau bersembunyi. Jika demikian, aku telah merelakan hartaku itu untuk engkau dan engkau sekarang sudah bebas dari tanggungan utangmu kepadaku,” jawab Imam Abu Hanifah.

Dalam peristiwa lain, suatu hari Abu Hanifah didatangi oleh seorang perempuan yang menawarkan kain sutra. “Apakah Anda berkenan membeli sutra ini?”

“Berapa harganya?” Tanya Abu Hanifah.

Read More

Ia Lebih Suka Penjara daripada Jabatan

“Seratus dirham,” jawab perempuan itu.

“Pakaian seperti ini bisa dijual lebih tinggi dari 100 dirham,” kata Abu Hanifah.

Perempuan itu akhirnya menambah 100 dirham lagi hingga menjadi 200 dirham. Abu Hanifah berkata bahwa harga barang itu masih layak dinaikan lagi. Perempuan itu pun menambah hingga 400 dirham.

Namun, sekali lagi Abu Hanifah berkata, “Masih ada harga yang lebih baik dari itu?”

“Anda pasti menghina saya,” jawab perempuan itu.

“Cobalah Anda mencari seorang yang ahli dalam menaksir harga barang ini. Saya tidak ingin menzalimi Anda,” jawab Abu Hanifah.

BACA JUGA: Sikap Imam Abu Hanifah terhadap Tetangga yang Patut Ditiru

Perempuan itu lalu mendatangkan seorang ahli menaksir harga barang. Abu Hanifah segera meminta dia untuk menaksir harga barang yang ditawarkan oleh perempuan itu. Penaksir itu kemudian menaksir barang tersebut dengan harga 500 dirham. Akhirnya, Abu Hanifah membeli kain sutra itu.

Sumber: Biografi 10 Imam Besar (edisi Indonesia)/Karya: Syaikh Muhammad Hasan al-Jamal/Karya: Pustaka Al-Kautsar

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline