Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Abu Dzar al-Ghifari, Tujuh Pesan dari Rasulullah

Dialah Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat yang berasal dari Bani Ghifar. Ia merupakan sahabat yang datang ke Makkah dengan menyamar. Ia menyamar agar tidak diketahui bahwa ia ingin bertemu dengan Rasulullah dan masuk Islam.

Abu Dzar adalah seorang mahaguru dalam seni menghindarkan diri dari bujuk rayu kekuasaan dan harta kekayaan.
Suatu ketika, Abu Dzar pernah ditawari jabatan sebagai wali (setingkat gubernur) di Irak. Abu Dzar menjawab, “Demi Allah, tidak. Kalian tidak akan pernah bisa menarikku ke dalam dunia kalian!”

Suatu hari ada seorang sahabat yang melihat Abu Dzar mengenakan jubah yang lusuh. Sahabat itu pun bertanya, “Bukankah engkau memiliki baju selain ini? Beberapa hari yang lalu aku melihatmu memiliki dua baju baru.”

Abu Dzar menjawab, “Wahai putra saudaraku, aku telah memberikan dua helai baju itu kepada orang yang lebih membutuhkan.”

Sang sahabat berkata, “Demi Allah, engkau juga membutuhkannya.”

Abu Dzar menjawab, “Ya Allah, ampunilah ia! Sungguh engkau terlalu mengagungkan dunia. Bukankah engkau melihat burdah yang aku pakai ini? Aku masih memiliki burdah yang lain untuk shalat Jumat. Aku memiliki domba betina yang bisa aku perch susunya dan seekor keledai yang bisa kukendarai. Nikmat apa lagi yang lebih tinggi daripada yang kita miliki ini?”

Pada suatu hari Abu Dzar duduk untuk menyampaikan sebuah hadis. Ia berkata, “Kekasihku Muhammad Saw, telah mewasiatkan tujuh hal kepadaku: beliau memerintahkanku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka, beliau memerintahkanku agar melihat kepada orang yang lebih rendah dariku dan bukan kepada orang yang lebih tinggi dariku, beliau memerintahkanku agar tidak meminta sesuatu pun kepada orang lain, beliau memerintahkanku agar menyambung tali silaturahmi, beliau memerintahkanku agar mengatakan kebenaran meskipun pahit, beliau memerintahku agar dalam menjalankan agama Allah tidak takut celaan orang yang mencela, dan beliau memerintahkanku agar memperbanyak bacaan: la haula wa la quwwata illa billah (tiada daya dan upaya selain karena Allah)’.”

Abu Dzar selalu melaksanakan pesan tersebut dan menjalani hidup sejalan dengannya hingga ia menjadi simbol nurani bagi umat dan kaumnya. Imam Ali berkata, “Hari ini sudah tidak ada lagi orang yang tidak takut terhadap celaan orang yang mencela dalam menegakkan agama Allah selain Abu Dzar.”

Ia hidup untuk melawan penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta kekayaan. Ia hidup untuk merobohkan yang salah dan membangun yang benar. Ia hidup dengan tekun untuk mengemban tanggung jawab memberi nasihat dan peringatan. []

Sumber: Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW/ Penulis: Khalid Muhammad Khalid/ Perbit: Qisthi Press/ 2017

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More