Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Haruskah Mematuhi Ajakan Ibunda untuk Menjauhi Rahmat Allah?

0

Dialah singa yang menyembunyikan kukunya itu dan bila datang kepada Nabi ketika berada di antara sahabat-sahabatnya, akan disambutnya dengan ucapan selamat datang sambil bergurau, “Ini dia pamanku! Siapa orang yang punya paman seperti pamanku ini?”

Itulah dia Sa’ad bin Abi Waqqas! Kakeknya ialah Uhaib, putera dari Manaf yang menjadi paman dari Aminah ibunda dari Rasulullah. Ias memeluk Islam saat berusia 17 tahun dan keislamannya termasuk yang terdahulu di antara para sahabat. Hal ini pernah diceritakannya olehnya, “Pada suatu saat saya beroleh kesempatan termasuk tiga orang pertama yang menjadi Muslim.”

Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki oleh Sa’ad yang dapat dibanggakannya. Karena dialah yang mula-mula melepas¬kan anak panah dalam membela Agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Bahkan dia merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Nabi dengan jaminan kedua orang tua beliau.

Related Posts

Cahaya yang Berpindah dari Abdullah ke Aminah

Namun Umar pun tidak lupa akan kisah Sa’ad dengan ibunya sewaktu ia telah berbai’at mengikuti Nabi. Ketika ibunya berusaha untuk membendung dan menghalangi puteranya dari Agama Allah mengalami kegagalan. Dilaksanakannya dengan tekad yang luar biasa, ia tak hendak menjamah makanan atau minuman hingga hampir menemui ajalnya.

Tapi keimanannya terhadap Allah dan Rasul lebih kuat dasri baja dan batu karang mana pun juga. Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya dan dikatakannya, “Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda, seandainya bunda mempunyai seratus nyawa lalu ia keluar satu per satu, tidaklah anakanda akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga! Maka terserahlah kepada bunda, apakah bunda akan makan atau tidak!”

Akhirnya ibunya mundur dengan kekalahan, dan turunlah wahyu menyokong pendirian Sa’ad serta mengucapkan selamat ke¬padanya, “Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku, padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Luqman:15) []

Sumber: Karakterisik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah/Penulis: Khalid Muhammad Khalid/Penerbit: Diponegoro/2006
Redaktur: Dini Koswarini

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline