Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Zubair, Laksana Tiupan Angin Kencang

0 35

 

Ia adalah seorang berkuda yang termasyhur, dan pahlawan gagah perkasa. Ia pria yang merajalela di medan perang dan ditakuti di setiap arena. Dialah yang telah dikenalkan oleh Nabi, “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.” Zubair dan Thalhah, hingga saat akhir hayatnya tak berbeda satu sama lain.

Saat hari-hari pertama dari Islam, sementara Kaum Musliminnya waktu itu masih sangat sedikit sehinggga mereka bersembunyi di rumah Arqam. Tiba-tiba pada suatu hari terdengar kabar jika Nabi terbunuh.

Tindakan Zubair seketika itu tiada lain hanya menghunus pedang dan mengacungkannya, lalu ia berjalan,sepanjang kota mekah laksana tiupan angin kencang, padahal usianya masih cukup muda. Mula-mula ia pergi mencari kebenaran berita itu, jika memang benar ia akan mencari pembunuh Nabi dan menebas pundak- pundak mereka.

Dari kemarahannya sangatlah terlihat jika rasa cintanya terhadap Nabi sangatlah besar.

Itu hal yang wajar saja karena sekali pun ia seorang bangsawan terpandang dalam kaumnya, namun setelah ia memeluk Islam penyiksaan terhadapnya tidak dapat dihindarinya. Pemimpin penyiksaan itu tidak lain ialah ayahnya sendiri. Pernah ia di sekap didalam kurungan yang di penuhi oleh embusan asap api agar sesak nafasnya. Tapi atas ijin dari Allah maka Zubair masih dalam keadaaan yang sehat setelah kejadian itu. Zubair sangat merindukan untuk menemui syahidnya, dan sangat merindukan kematiannya.

Saat ia mempunyai seorang anak ia memberi nama anak-anaknya tersebut dengan nama-nama Nabi. Meski Nabi terakhir hanyalah Nabi Muhammad. Maka ia namai anaknya dengan nama-nama syuhada dan berharap jika anak-anaknya pun akan menjadi seorang syuhada.

Zubair tidaklah memiliki jabatan apapun di tempatnya. Namun kelebihannya sebagai prajurit perang tergambar pada pengandalan terhadap dirinya secara sempurna dan kepercayaan yang teguh. Meskipun sampai seratus ribu orang menyertainya di medan tempur, tapi akan terlihat seakan-akan sendirian di arena pertempuran. Dan seolah tanggung jawab perang dan kemenangan terpikul di atas pundaknya sendiri.

Hingga akhirnya ia menemui akhir hayatnya, namun syahidnya terjadi atas kecurangan musuhnya. Ia di bunuh sewaktu menghadap Tuhannya. Maka saat itu pula ia bukan sekadar menghadap Tuhannya tapi juga berada di tempat terbaik dalam sisi Tuhannya. []

Sumber: Karakterisik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah/Penulis: Khalid Muhammad Khalid/Penerbit: Diponegoro/2006
Redaktur: Dini Koswarini

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline