Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Jenazahnya Tak Ditemukan karena Doanya

0

Sepeninggal Rasulullah, banyak kabilah yang berusaha melepaskan diri dari naungan Islam. Bagi mereka yang murtad, nyawalah tebusannya. Maka, al-Ala’ bin al-Hadhrami pun berangkat. la adalah seorang sahabat yang mustajab doa-doanya.

Dalam perjalanan, terjadilah musibah. Di daerah padang pasir Dahna, unta-unta kaum Muslim menjadi beringas dan tak terkendali. Unta-unta itu lari tunggang-langgang sembari membawa seluruh perbekalan. Semakin dikejar, unta-unta itu makin kencang berlari. Kaum Muslim pun terduduk pasrah. Mereka berada di tengah gurun tanpa bekal sedikit pun. Tak ada kemah, makanan, ataupun seteguk air. Al-Ala’ berdiri dan berseru kepada tentaranya.

“Wahai kaum Muslim, jangan bersedih! Allah tidak akan menghinakan orang-orang yang menolong agama-Nya!”
Mendengar seruan al-Ala’, hati kaum Muslim mulai tenang. Mereka meyakini apa yang diucapkan al-Ala’.

Ketika waktu shubuh tiba, mereka semua menunaikan shalat Shubuh, diteruskan dengan berzikir hingga cahaya matahari menghangatkan badan. Keajaiban pun terjadi. Di samping mereka tiba-tiba terdapat kolam lebar yang jernih airnya.

Mereka segera minum sepuas-puasnya.

Belum cukup satu keajaiban, muncul lagi keajaiban lain. Tak lama kemudian, unta-unta mereka pun kembali dan bekal yang mereka bawa tak berkurang sedikit pun.

Perjalanan pun dilanjutkan hingga berhadapan dengan musuh. Perang di Bahrain dimenangkan oleh kaum Muslimin. Berikutnya, al-Ala’ bin aI-Hadhrami memerintahkan pasukannya untuk bergerak ke wilayah Darain. Setibanya di Darain, membentang teluk yang cukup lebar untuk menuju lokasi musuh. Al-Ala’ lantas mengangkat tangannya dan melantunkan doa, “Ya Allah, ya Rahman ya Rahim, ya Hakim, ya ya Ahad, hanya Engkaulah tempat kami bergantung. Tiada sembahan selain Engkau yang patut kami sembah.”

Selanjutnya al-Ala’ menunggangi kudanya di atas air. Masya Allah! Kuda itu tidak tenggelam. Dengan tenang, binatang itu berjalan, seolah-olah di atas daratan.

“Berdoalah seperti apa yang aku lantunkan dan menyeberanglah kalian dengan kuda-kuda kalian!” kata al-Ala’.
Seluruh pasukan patuh. Serta merta mereka turun ke air dan menyeberang. Pasukan Muslimin tiba dengan cepat di hadapan musuh. Padahal, jika menyeberang dengan perahu, mereka membutuhkan waktu satu hari. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sahm bin Munjab, dikisahkan bahwa saat peperangan usai, al-Ala’ meninggal dunia karena sakit perut. Karena tidak menemukan air, para sahabat mengafaninya dengan pakaian yang ia kenakan dan menguburkannya. Merekapun bergerak pulang. Tak lama berjalan, mereka menemukan mata air.

“Bagaimana kalau kita kembali untuk mengambil jenazah al-Ala’ ? Kita dapat memandikannya di sini,” kata seorang sahabat.

“Ya, kami setuju denganmu,” jawab yang lain.

Mereka berbalik arah. Namun sesampainya di tempat mereka menguburkan al-Ala’, mereka tidak menemukan makam itu lagi. Berkali-kali disusuri, tetap saja mereka tidak menemukan jasadnya.

“Kemana kuburan al-Ala’? Mengapa jasadnya menghilang?” tanya semua orang.

“Aku pernah mendengar al-Ala’ berdoa kepada Allah agar la menyembunyikan jenazahnya agar auratnya tidak terlihat oleh siapa pun,” seru salah seorang dari mereka.

“Mungkin Allah mengabulkan permintaannya.”

Akhirnya, kaum Muslimin pun berlalu. Al-Ala’ telah mendapatkan kemuliaan dengan terkabulnya doa-doa yang ia panjatkan. Mereka serahkan al-Ala’ bin al-Hadhrami kepada Zat yang dicintainya. []

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline